Resolusi 2018: Mari Mulai Petualangan di 20! (Globalize The Blog & Hunting Achievements)



Malam tahun baru itu lucu. Bagi beberapa orang, malam tahun baru itu spesial dan harus dirayakan. Bagi sebagiannya lagi, malam tahun baru sama halnya seperti malam-malam biasanya, cuma lebih berisik karena langit yang terbakar dan terompet yang bersahutan. 

Setiap tahun yang sudah kita lewati pasti memiliki ceritanya masing-masing. Entah menarik, entah freak. Entah senang, entah sedih. Berduka karena ditinggal orang tercinta, atau bersuka karena berhasil meraih cita-cita. Yang jelas, gue selalu yakin, setiap tahun yang sudah kita lalui pasti memiliki cerita yang melekat dan sayang untuk dilupakan begitu saja.  

Momen yang membuat seseorang menjadi jahat adalah ketika ambisi mereka akan sesuatu tidak terpenuhi dan mereka tidak mendapatkan pengakuan atas apa yang mereka harapkan.

...at least that's what I learned in 2017.

Ehem, bosan juga ya rasanya kalau setiap akhir tahun selalu terduduk sambil melihat kembang api dan bergumam "Ah, nggak kerasa ya udah di penghujung tahun, padahal baru kemarin.. blablabla.." ya, begitulah manusia, sering merasa 'nggak kerasa'. Selain melihat langit yang meledak-ledak, atau mendengar terompet yang saling bersahut-sahutan, atau bbq-an di atap rumah teman, akhir tahun adalah momen yang tepat untuk merefleksikan diri dan membuat resolusi untuk tahun selanjutnya.

Sejak aktif di blog atau sejak 4 tahun belakangan ini, membuat resolusi untuk tahun selanjutnya merupakan agenda yang wajib buat gue. Bukannya kenapa-napa, tapi seru aja rasanya bisa mencanangkan beberapa hal setiap tahunnya dan bisa membacanya kembali suatu saat nanti. Mungkin di tahun 2030 nanti, gue bakal iseng-iseng baca resolusi gue di tahun 2018 dan mulai tersenyum seraya berkata "Haduh, banci/polos/kampungan sekali resolusi anak muda ini". Terus istri gue nyamperin sambil nanya "lagi baca apa, pi?" terus gue bales "Nggak, bukan apa-apa mi, yuk lanjut main. Papi mau pakai jurus macan tutul sekarang".  

Dua ribu tujuh belas, ehem. Banyak hal yang menarik dalam hidup gue di tahun ini. Dari segala aspek, entah politik atau asmara atau ekonomi atau pendidikan. Banyak hal tak terduga, deh. Padahal kalau ditilik balik dari Resolusi 2017 gue tahun lalu, harapan gue cuma sebatas menikmati hidup di usia ke 19 tahun. Tapi ternyata, sampai di penghujung tahun ini malah banyak hal yang merangsang ability to struggling for something. Esensi menikmati 19 agak terkikis sepertinya pemirsa. 

Kaleidoskop 2017

Di awal Januari, gue agak dikagetkan dengan berita terbakarnya kapal Zahro Express. Bagaimana tidak, beberapa hari sebelum kapal tersebut terbakar ada sejumlah anak muda yang pulang pergi menggunakan kapal tersebut setelah menikmati libur akhir tahun mereka di tahun 2016. Yap, gue dan teman-teman gue adalah beberapa anak muda tersebut. Kapal yang sama, nahkoda yang sama, namun nasib yang berbeda dengan rentang waktu beberapa hari saja. Februari kemudian merupakan bulan yang cukup politis buat gue, karena di bulan ini untuk pertama kalinya gue ikut pemilu. Mendukung sang pertahana, memberi suara pertama untuk dirinya adalah langkah terbijak yang bisa gue lakukan. Sayangnya, suara tersebut tidak cukup untuk membuat pemimpin idaman menang satu putaran. Hiks. Maret kemudian adalah bulan dimana gue benar-benar memandang digital marketing dan dunia startup sebagai lahan yang sangat potensial dan tangible. Karena di bulan ini gue mulai fokus mencari ilmu dalam berjualan sepatu secara online. 
   
hi there
April masih nggak jauh-jauh dari politik. Pemilu Gubernur DKI putaran 2 berlangsung di April 2017 dan mengeluarkan hasil yang cukup mengecewakan. Maaf, bukan cukup mengecewakan namun teramat sangat mengecewakan. Di bulan ini juga gue mulai menyadari betapa handalnya sutradara Spanyol, Oriol Paulo, dalam mengeksekusi film thriller-mystery yang suspense. May kemudian bisa dibilang merupakan bulan tersedih di tahun 2017 ini. Seorang pemimpin yang tegas dan lugas, dibabas oleh politik busuk. Berkabung untuk toleransi, berkabung untuk kewarasan.  Juni kemudian hadir dengan biasa saja, seperti pertengahan tahun menjelang hari raya di tahun-tahun sebelumnya: penuh dengan libur. Juni juga menjadi bulan dimana UAS semester 2 gue berlangsung, dengan jadwal UAS yang kepotong-potong libur, hingga akhirnya tibalah gue di bulan Juli dengan libur panjang semester kuliah. Nothing special in july, cuma sekedar awal dari libur puanjang dengan berita-berita politik di televisi tentang DPR yang agak menjengkelkan. 

batu caves
Agustus lagi-lagi dihiasi oleh beberapa berita yang menjengkelkan. Salah satunya, berita tentang penutupan patung dewa di Tuban hanya karena berbeda keyakinan. Di akhir Agustus, gue dengan kakak dan nyokap berhasil mengeksekusi agenda travelling ke Malaysia dengan cukup menyenangkan. Kl, Selangor, Putra Jaya, sampai ke Melaka menjadi destinasi yang sangat menyenangkan di Malaysia. Melaka mungkin akan menjadi tempat yang sangat menyenangkan untuk dikunjungi kembali suatu saat nanti. Di bulan September, kuliah semester 3 gue dimulai. Di bulan ini juga, kejenuhan akan Social Media membuat gue puasa social media selama sebulan lebih. Yap, puasa social media selama sebulan lebih ternyata membuat gue menyadari banyak hal dan menciptakan cara pandang baru dalam hidup.   

Sebulan setelah kuliah di semester baru, gue mulai merasakan keresahan baru di semester baru. Keresahan yang disulut oleh asmara, lebih tepatnya. Nampaknya 2017 tidak memiliki feng-shui yang baik buat gue dalam hal percintaan. Dua wanita atraktif dan menarik, dua-duanya ternyata sudah ada yang punya. Sampai ke bulan November masih ada sedikit rasa sendu akibat perih dan pedihnya realita. Sampai pada akhirnya tibalah gue di bulan ini, bulan dimana penghujung tahun mulai menyapa. Bulan Desember ini cukup manis sebenarnya, karena di bulan ini beasiswa kursus digital marketing gue selesai dengan cukup menyenangkan dan lomba website gue juga berakhir dengan juara.. meskipun bukan juara 3 yang gue harapkan.


Resolusi 2018!

Yap, 2017 memang penuh warna. Sedih, menjengkelkan, senang, patah hati, semua terelaborasi dengan cukup 'fair'. Resolusi 2018 gue mungkin nggak akan se-general resolusi gue untuk tahun 2017. Resolusi 2018 gue kedepannya mungkin akan lebih spesifik dan ambisius. Di tahun 2018, gue akan berkepala dua. Entah kenapa, rasanya umur 20 akan datang dengan pikulan tanggung jawab yang lebih besar.  Umur dua puluh adalah awal dari perjalanan, semacam titik start untuk bertualang menjelajah hidup secara bijak dan mature. Untuk itu, keresahan-keresahan di umur 20 sudah seharusnya di-upgrade menjadi lebih berkelas dan berkualitas. Resah karena asmara? Terlalu sensitif dan mudah bawa perasaan? So childish, dude! 

Selain menjadi awal, umur dua puluh juga sudah seharusnya menjadi akhir. Akhir dari keresahan-keresahan yang tidak berkualitas. Mungkin itu juga yang menjadi alasan kenapa nenek-nenek di film Miss Granny dan semua remake-nya kembali ke umur 20. Maka dari itu, resolusi gue untuk tahun depan adalah..

Pertama, hal yang akan menjadi resolusi gue di tahun 2018 adalah.. mengubah mayoritas tulisan di blog ini menjadi english. Entah mengapa, pria yang akan berusia 20 ini menganggap jika menulis daily life dengan bahasa Indonesia sudah agak norak. Opini-opini yang 'agak berat' atau postingan untuk lomba blog mungkin akan tetap ditulis dengan bahasa Indonesia. Namun selebihnya, ada baiknya jika diglobalisasi menjadi bahasa yang lebih general. Terlebih, karena english post biasanya jangkauannya lebih luas dan kalau dikomersialkan akan lebih 'enak'. Berdasarkan paid post di blog ini yang ditulis dengan english sih, begitu.

Kedua, ada satu hal yang baru gue sadari dan sangat membuat gue jengkel, hal itu adalah tentang lomba. Setiap  lomba entah lomba apapun itu, gue nggak pernah juara satu. Sejak sering ikut lomba blog di kelas 12, dari beberapa lomba yang gue menangkan, nggak ada satupun yang juara satu. Satu-satunya juara satu yang pernah gue dapatkan adalah saat TKB, juara satu mewarnai. Di tahun 2018 nanti, mungkin akan menarik jika gue mencanangkan untuk berburu lomba dan menjadi achievements Hunter. Lomba  menulis, lomba blog, lomba web, atau apapun itu, selama tangible. Selain lomba, berburu beasiswa dari brand besar juga akan menjadi hal yang menarik. Karena percaya atau enggak, lomba dan beasiswa adalah kuas intelektualitas yang cukup indah untuk menghias CV.

  Moreover,

  • Internship in well known IT based company/MNCs
  • healthier and maybe more muscular
  • Can't intervened by immature things such as irrational love or childish conflict
  • Give more attention to people in the house

So.. Happy Early New Year Everyone..

Mari mulai petualangan di 20!


Post a Comment

0 Comments