Sebagai salah satu film anime Jepang paling legendaris dengan No Face sebagai tokoh yang ikonis, Spirited Away memberikan kesan tersendiri dari kisah dan animasinya yang terbilang cukup tidak biasa untuk film keluaran tahun 2001. Saya masih di bangku SMP kelas 2 saat pertama kali menonton film ini, dengan berbagai macam kebingungan yang menyelimuti seperti: LAH BAPAK EMAKNYA JADI BABI??! APAAN SIH NI PLIEM? KOK BISA TERKENAL??! Barulah setelah menonton ulang film ini di usia yang lebih dewasa, saya sedikit lebih paham konteks dan esensi dari cerita film Spirited Away ini.

Spritied Away dapat menjadi parameter tersendiri bagi industri film animasi Jepang. Di tahun 2001, bahkan Jepang sudah memiliki kemampuan untuk membuat film animasi dengan visualisasi yang apik. Ya, memang ada unsur campur tangan Disney-nya, sih. Sejatinya, Spirited Away menawarkan sebuah kisah abstrak yang sangat menarik, namun sayangnya keabstrakannya itu mungkin membuat beberapa orang tidak bisa menikmatinya.


Sinipsis Spirited Away (2001)

Chihiro, anak perempuan berusia 10 tahun, harus berpetualang di dunia roh setelah kedua orang tuanya dikutuk menjadi Babi karena memakan makanan para dewa di sebuah kuil. Pada awal petualangannya ia bertemu dengan Haku, seorang anak laki-laki yang merupakan murid dari Yubaba. Yubaba sendiri adalah seorang penyihir terpandang yang memiliki mantra paling hebat di dunia tersebut. Haku kemudian menjadi pembimbing dari Chihiro untuk dapat menaklukkan dunia roh dimana Chihiro kemudian bertemu banyak sekali karakter aneh yang cukup menakutkan baginya.

Untuk dapat mengubah orang tuanya kembali menjadi manusia dan mengubah keadaan kembali seperti sediakala, Chihiro harus melalui berbagai macam rintangan demi rintangan. Mulai dari meladeni dewa yang berbau busuk di tempat pemandian air panas, sampai menaklukkan mantra-mantra jahat yang ditemuinya.




Review Spirited Away (2001)

Film ini memiliki cerita yang teramat unik dan menarik untuk diamati. Jika kita tidak bisa menikmatinya, setidaknya kita dapat mengamatinya. Cerita dari film Spirited Away memiliki konsep dunia paralel dimana pada dunia roh dapat kita amati bagaimana manusia dianggap sebagai objek yang menyebalkan. Ketika di dunia kita memuja-muja dewa dan roh, di dunia roh kita justru dianggap sebagai pemalas yang tidak berguna. 



Saat pertama kali menonton film ini, saya tidak menyadari akan eksistensi dari konseptualisasi dunia paralel tersebut. Ketika menyaksikan ulang dan menyadarinya, barulah saya dapat menikmati keseluruah cerita yang mungkin agak absurd dan abstrak bagi kebanyakan orang. Secara cerita, film ini memiliki banyak pesan moril yang lebih dari sekedar "bakti seorang anak", seperti petualangan dan problem solving dari karakter utamanya. Secara visualisasi, film ini menawarkan visualisasi yang apik untuk kategori film keluaran tahun 2001, bahkan lebih smooth mungkin ketimbang kartun-kartun ala channel Spacetoon yang dulu sempat populer.  

Dengan durasi 2 jam 5 menit, film ini ada baiknya ditonton disaat sedang tidak mengantuk. Karena seperti halnya film-film Jepang baik animasi ataupun non animasi kebanyakan, alur yang hadir di Spirited Away memiliki ciri alur yang lamban. Mengantuk mungkin mampu mempengaruhi penilaian kita secara tidak fair akan film ini. Ya, untuk film animasi yang sering kali mendapatkan penghargaan internasional bergengsi pada zamannya, Spirited Away yang di direct oleh Hayao Miyazaki ini bisa menjadi referensi tersendiri bagi sobat non wibu yang ingin mencoba menyaksikan film anime.