The problem is that, at some point, likely a long time ago, we got punched in face, and instead of punching back, we decided we deserved it. (Everything is F*cked. Mark Manson. P.46)

Mark Manson pada tahun 2019 kemarin kembali mengeluarkan buku baru dengan gaya khasnya, yakni buku dengan kata F*cked di judulnya. Everything Is F*cked: A Book About Hope, judulnya. Tidak terlalu berbeda dengan buku sebelumnya, The Subtle Art of Not Giving a F*ck atau versi Indonesianya dikenal dengan Sebuah Seni untuk Berpikir Bodo Amat, Everything Is F*cked dikemas dengan gaya penulisan yang persis ala Mark namun memiliki pembahasan yang berbeda-beda.

Adapun detail dari Everything Is F*cked adalah sebagai berikut:

  • Judul : Everything is F*cked, A Book About Hope 
  • Penulis : Mark Manson 
  • Penerbit : HarperCollins Publishers Inc 
  • Tahun Terbit : 2019 
  • Jumlah Halaman :  288 
  • Harga : Rp. 200k ++

Sebagai salah satu orang yang cukup menyukai cara seorang Mark Manson mengemas Sebuah Seni untuk Berpikir Bodo Amat, saya bisa dibilang cukup antusias dengan kehadiran Everything Is F*cked. Dan benar saja, Everything Is F*cked memberikan sebuah eksplorasi terhadap wawasan unik namun kali ini dengan topik pembahasan yang lebih dalam, menyangkut Politik dan Agama didalamnya. 

Pembahasan yang Lebih Berani

Secara ringkas, buku ini menggeledah bagaimana hubungan manusia dengan beberapa aspek eksternal seperti uang, Internet, sampai hiburan dan bagaimana aspek-aspek tersebut mampu menjadi pemicu hal-hal yang 'F*cked abis' untuk kehidupan. Buku ini dibagi kedalam 2 part besar, dengan total 9 Bab. 

Part 1 berisi 5 bab dengan masing-masing tajuk: The Uncomfortable Truth, Self-Control is an Illusion, Newton’s Laws of Emotion, How to Make All Your Dreams Come True, Hope is Fucked. Sementara itu, Part 2 berisi 4 bab dengan masing-masing tajuk: The Formula of Humanity, Pain is the Universal Constant, The Feelings Economy, The Final Religion

Topik yang dipilih Mark benar-benar lebih berani, karena menyangkut serta agama serta politik yang mungkin bagi beberapa orang agak sensitif. Ilmu pengetahuan dan logika menjadi 2 senjata utama mark dalam mempreteli topik-topik pembahasan tersebut. Mark Manson mungkin terkesan seakan-akan berusaha menggocek pemahaman kita, namun jika kita resapi lebih dalam kita akan mendapati bagaimana pembahasan dari Mark cukup akrab dengan realita yang ada.

Gaya Elaborasi yang Mark Manson Banget  

Dengan gaya khasnya dalam menulis, setiap bab akan dibuka dengan cerita-cerita yang menjadi contoh kasus lalu kemudian dipretel-preteli secara psikologis oleh Mark. Tentu, dengan beberapa bumbu blak-blakan yang sarkas. Elaborasi yang diberikan Mark Manson bisa dibilang persis dengan gaya elaborasinya di buku Sebuah Seni untuk Berpikir Bodo Amat.

Argumen Mark tentu juga didukung dengan sumber-sumber riset psikolog dan sosiolog yang ia kutip dan sertakan di beberapa bagian dari buku. Secara keseluruhan, buku ini adalah buku yang tepat untuk eksplorisasi hal-hal menarik secara fakta dan 'opini tajam' ala Mark Manson. Dengan sumber yang kredibel, cerita yang menarik, dan interpretasi yang tajam, buku ini tentu dapat menjadi salah satu referensi bagi akal sehat kita dalam menilai berbagai macam hal tentang kehidupan secara makro.