Filosofi Kopi 1 & 2: Bukan Film yang Bisa Dinikmati Semua Orang?


Bukan, Filosofi Kopi bukan tipe film yang bisa dinikmati seluruh lapisan masyarakat. Sebagian akan menganggapnya berlebihan, sebagiannya lagi akan menganggapnya relevan. Mengapa demikian? Karena sejatinya, Filosofi Kopi adalah untuk mereka yang memang memiliki perasaan 'lebih' kepada kopi. Penilaian-penilaian seperti 'ah lebay' ataupun 'ah gak banget' adalah penilaian-penilaian yang tidak jarang diberika penonton yang belum benar-benar akrab dengan kopi.

Bagi mereka yang mengenal kopi lebih intim ketimbang orang-orang lain, film ini bisa jadi sesuatu yang sangat merepresentasikan diri sendiri. Sebagai seorang penikmat kopi yang juga membaca novel-novel Dewi Dee Lestari, tentu saya merupakan seorang penonton yang menganggap Filosofi Kopi sebagai sebuah film yang cukup intim. Saat pertama kali menyaksikannya, tidak sulit bagi saya untuk menyimpulkan bahwasannya film ini bukanlah film yang bisa dinikmati banyak orang. 


Sinopsis Filosofi Kopi 1&2

Filosofi Kopi 1&2 sederhananya adalah tentang cerita petualangan Ben (Chicco Jerikho) dan Jodi (Rio Dewanto). Pada petualangannya yang pertama, Ben dan Jodi mendapatkan sebuah tantangan dari seorang miliarder untuk membuat kopi terenak di Jakarta bahkan Indonesia. Petualangan mereka kemudian membawa mereka berkeliling kesana kemari untuk menemukan biji kopi dan petani kopi di Indonesia dimana Ben dalam Filosofi Kopi yang pertama ini memiliki sebuah 'pride' yang sangat tinggi sebagai seorang barista.

Pada petualangan yang kedua, Ben dan Jodi yang sempat memutuskan untuk menjual kedai kopi mereka dan keliling Indonesia dengan menggunakan kombi (mobil van) Filosofi Kopi, akhirnya kembali ke Jakarta untuk membuka kedainya lagi. Permasalahan hadir dari pencarian investor, dan kenangan masa lalu Ben yang begitu kelam. Dalam Filosofi Kopi 2, substans cerita berfokus pada karakter dari Ben dan Jodi ketimbang esensi dari kopi itu sendiri.


Review Filosofi Kopi 1&2: Tidak Bisa Dinikmati Semua Orang?

Jika ditilik kembali ke novel dari Dewi Dee Lestari sendiri yang menjadi sumber adaptasi dari film Filosofi Kopi, kita dapat menyimpulkan bahwa novel tersebut juga bukan novel yang ceritanya bisa dinikmati semua orang. Kembali, perasaan lebih kepada kopi menjadi alasan utama. 



Dari prespektif orang yang tidak memiliki perasaan lebih pada kopi, mereka mungkin akan menganggap cerita Ben dan Jodi sebagai cerita yang benar-benar biasa saja. Sebiasa ada 2 orang pecinta kopi yang mendirikan kedai kopi dan mendapatkan tantangan secara mendadak. Permasalahan yang ditimbulkan juga terkesan berlebihan. Ditantang oleh miliarder untuk membuat kopi? Seperti sebuah konsep kisah klise. Sementara pada Filosofi Kopi 2, karakter Ben dan Jodi lebih dititikberatkan. Filosofi Kopi 2 hadir bukan dari cerita yang benar-benar dibangun oleh Dewi Dee Lestari, namun dari kompilasi cerita netizen yang telah diseleksi. Dalam konteksnya kepada Kopi, Filosofi Kopi 2 tidak sefokus Filosofi Kopi pertama dalam mengeksplor banyak hal tentang kopi. Mungkin, lebih ke post effect untuk retensi kedai kopi.

Dari prespektif orang yang memiliki perasaan lebih pada kopi, mereka seyogyanya akan menemukan serpihan-serpihan dirinya di film ini. Pada Filosofi Kopi pertama, mereka akan sangat menikmati bagaimana cerita eksplorasi Ben dan Jodi untuk menemukan kopi terenak. Bagaimana pembahasan kopi Tiwus menemukan proses yang sederhana namun terlihat kompleks. Sementara pada Filosofi Kopi 2, ketimbang berfokus kepada karakter, orang yang memiliki perasaan lebih kepada kopi akan lebih menikmati fakta tentang bagaimana kopi telah menjadi komoditas modern. 

Secara singkat, mereka yang tidak memiliki perasaan lebih kepada akan berfokus kepada cerita secara keseluruhan. Sementara mereka yang memiliki perasaan lebih, akan berfokus kepada level selanjutny: esensi eksplorasi kopi yang ada di film ini ketimbang hanya sekedar cerita. Filosofi Kopi bukan film yang bisa dinikmati semua orang, ada kualitas yang dijaga yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang memang menyukai kopi.