Tadasih Coffee: Kala Seruputan Kopi Terasa Begitu Autentik di Pasar Baru Jakarta


Tidak mudah tentunya untuk bisa menemukan kedai kopi 'autentik' di Jakarta. Ya, di Jakarta memang menjamur kedai kopi mulai dari kedai yang merupakan perusahaan multinasional sampai perusahaan startup. Tapi sayangnya, cita rasa kopi yang ada di kedai-kedai tersebut seringkali terpuntir menjadi dessert dan lain sebagainya. Saya hampir lupa sensasi menyeruput kopi autentik yang pernah saya coba di Toraja dulu (baca disini), hingga akhirnya seruputan kopi Puntang Black Honey di Tadasih Coffee kemarin saat saya mengunjungi area Pasar Baru Jakarta mengingatkan saya kembali dengan rasa asli dari arabika yang 'seharusnya'.

Vibes dari kedai kopi Tadasih yang terletak di area Metro Atom lantai 2 ini pun memiliki keunikan tersendiri dan tentu berbeda dari kedai-kedai kopi lainnya di Jakarta. Bersebelahan dengan toko-toko kamera, Tadasih Coffee berdiri dengan gaya autentik ala kedai-kedai yang cukup indie. Sebelum tiba disana, saya sempat kebingungan untuk mencari lokasinya yang berada agak 'dalam' di lantai 2.

Tadasih Coffee memberikan sebuah cerita yang menarik bagi saya. Bukan tentang pretensi, namun tentang sensasi. Karena bagaimanapun, cerita yang menarik sejatinya tidak dimulai dengan gimik ataupun intrik. Cerita yang menarik, dimulai dari kopi yang autentik.

Eksistensi Tadasih Coffee

Tadasih Coffee merupakan salah satu kedai kopi autentik yang bisa dibilang memiliki popularitas tinggi bagi para pecinta kopi. Berkaca dari lokasinya yang ada di Pasar Baru, Traffic utama pengunjung Tadasih Coffee tentunya datang dari pengunjung di luar pasar baru yang ingin merasakan kopi yang autentik, bukan pengunjung pasar baru yang secara tidak sengaja menemukan kedai ini diantara gerai-gerai kamera. Media konvensional seperti 'mulut ke mulut' sampai media digital seperti Instagram dan Podcast menjadi daya tarik utama bagi para pengunjung diluar pasar baru tersebut.


Meskipun terdengar seperti kata dalam bahasa Jepang, namun Tadasih bukanlah bahasa Jepang melainkan bahasa Jawa yang memiliki arti merindukan bulan. Saat saya ada di Tadasih Coffee kemarin, saya hanya berbincang-bincang sejenak dengan pemilik kopi terkait kopi, sampai domisili. Saya tidak sempat menanyakan kenapa memilih nama 'Merindukan Bulan' sebagai nama dari kedai kopi? Namun jika diinterpretasikan lagi, mungkin bisa kita simpulkan bahwa kita hanya bisa melihat bulan di malam hari. Maka dari itu, teruntuk orang-orang yang merindukan bulan (malam), kopi bisa menjadi solusi untuk tetap melek sampai dengan malam usai dan melepas rindu dengan bulan sebelum akhirnya diambil alih oleh matahari. Agak konspiratif, ya. 

Jam Operasional dan Sajian Menu yang Unik


Selain lokasinya yang terbilang unik, jam operasional dari Tadasih Coffee juga terbilang unik. Tanpa adanya waktu pasti secara operasional, Tadasih Coffee mengumumkan waktu operasionalnya lewat instagram (@tadasih.jkt) setiap harinya. Sajian menunya pun terbilang cukup unik, karena akan ada menu-menu kopi dari berbagai macam daerah yang dapat di custom sesuai dengan keinginan pengunjung. Dari bincang-bincang dengan owner, diketahui bahwa semua kopi yang disajikan adalah arabika. Kopi Black Honey dari Puntang kemudian pilihan saya kemarin. 

Butuh waktu sekitar 10 menit mungkin bagi saya untuk menunggu pembuatan kopi tersebut. Rasanya masam, dengan warna seperti teh, sebagaiman arabika yang autentik seharusnya. Tidak melulu kopi panas, ada beberapa pilihan menu kopi dingin lainnya untuk para pengunjung. Untuk harga, Tadasih Coffee menawarkan harga di range Rp. 30.000 untuk kopi-kopinya yang secara rasa dan takaran terasa sangat worth.