The White Storm 2: Drug Lords (2019), Perseteruan Louis Koo dan Andy Lau dalam Perang Melawan Narkoba


Setelah White Storm (2013) hadir dengan cukup mengesankan dari segi cerita dan aksi, kini White Storm 2 (2019) hadir dengan permasalahan Gembong Narkoba yang lagi-lagi diangkat. Meskipun begitu, The White Storm pertama dan kedua tidak memiliki cerita yang berkesinambungan, yang sama diantara keduanya selain isu 'gembong narkoba' adalah Louis Koo. Louis Koo lagi, Louis Koo lagi. Louis Koo memang terlalu sering muncul di film laga Hong Kong.

Kalau di The Whitestorm pertama Louis Koo hadir dan berseteru dengan Sean Lau plus Nick Cheung, di The White Sotrm 2 ini Louis Koo berseteru dengan Andy Lau. Perseteruan antara Andy Lau dengan Louis Koo di film ini memiliki sisi emosional, namun tidak seemosional The Whitestorm pertama ketika Sean Laui diharuskan memilih salah satu diantara Louis Koo atau Nick Cheung. 


Sinopsis The White Storm 2: Drug Lords (2019)

Tin (Andy Lau) dan Dizang (Louis Koo) merupakan 2 anggota dari geng Triad yang sama. Suatu hari, Dizang dituduh melanggar peraturan terkait transaksi narkoba oleh sang ketua Triad. Dizang mendapat hukuman dimana jarinya kemudian dipotong oleh Tin. Setelah kejadian tersebut, hubungan Dizang dan geng Triad merenggang. Ia mengembangkan bisnis narkoba sebagai bentuk dendamnya kepada geng terdahulunya. Sementara Tin, seiring berjalannya waktu menjadi pria yang sukses di industri finansial. 

Suatu ketika, Tin dan Dizang kembali bertemu. Tin menjadi salah satu aktor anti narkoba terkemuka, sementara Dizang dituduh menjadi gembong narkoba terbesar di HongKong. Keduanya pun kembali terlibat perseteruan. 



Review The White Storm 2: Drug Lords (2019)

The White Storm 2 meskipun hadir dengan tajuk Drug Lords, namun skala cerita tentang narkobanya tidak semasif The White Storm pertama yang sampai terlibat pertempuran di Thailand. Meskipun hanya bermain di skala domestik (Hong Kong) dan sedikit bumbu di Filipina, The White Storm 2 memiliki cerita yang kental akan dendam dan muatan politis.



Perseteruan antara Andy Lau dan Louis Koo praktis mewarnai film ini. Secara alur cerita, film ini terasa cukup rapih dengan visualisasi aksi tembak-tembakan yang cukup apik. Namun entah mengapa, film ini tidak terasa memiliki karakter unik jika dibandingkan dengan film-film aksi Hong Kong lainnya seperti Drug War (2012) ataupun The White Storm yang pertama. Cerita dari film ini sejatinya terlalu biasa untuk dibilang menarik, dan terlalu menarik untuk dibilang biasa.

Mungkin ada sebuah ekspektasi tersendiri bagi saya selaku penonton yang sudah menonton The White Storm pertama yang kemudian ekspektasi tersebut patah karena cerita yang agak mengerucut, dari yang awalnya melawan gembong narkoba dalam skala internasional, menjadi domestik. Tema dendam secara emosional dari The White Storm pertama pun mengalami antiklimaks. Namun, terlepas dari itu semua, perlu saya akui bahwa film berdurasi 1 jam 39 menit merupakan film yang cukup asik untuk dinikmati tanpa ekspektasi.