Hitman: Agent Jun (2020), Aksi Kocak & Heroik Komikus Mantan Anggota Intelejen Negara


Ketimbang menyebutnya sebagai film aksi yang dibalut dengan komedi, Hitman: Agent Jun (2020) nampaknya lebih layak untuk dikategorikan sebagai film komedi yang dibumbui dengan aksi. Hitman: Agent Jun menyajikan sebuah gorengan komedi yang matang; punchline yang unik, namun tidak mengusik. Dengan tambahan permainan visualisasi ala-ala web toon, film ini menawarkan cerita aksi yang 'tidak biasa' tentang mantan anggota intelejen negara yang memalsukan kematiannya dan memutuskan untuk mengejar passion dengan menjadi seorang komikus.

Film ini seakan-akan membuktikan bahwa Kwon Sang-woo merupakan aktor yang 'tepat' untuk peran jagoan kocak. Setelah sebelumnya berperan di Accidental Detective 1 (2015) dan  Accidental Detective 2 (2018), kini ia hadir bukan sebagai detektif namun hadir dengan peran barunya sebagai mantan pembunuh bayaran resmi milik negara. 


Sinopsis Hitman: Agent Jun (2020)

Jun adalah pembunuh bayaran legendaris di agen anti-teror di National Intelligence Service (NIS). Meskipun ia memiliki keterampilan yang sangat baik dalam beladiri hingga akhirnya menjadi legenda, passion ia sesungguhnya adalah menggambar komik. Hingga akhirnya pada suatu malam, ia memalsukan kematiannya lalu hidup dengan identitas baru untuk mengejar kehidupan yang ia dambakan: menjadi komikus. Setelah 15 tahun, ia akhirnya menjadi komikus Web Toon dan memiliki seorang istri dan seorang putri. 

Naasnya, kehidupan sebagai seorang komikus ternyata tidak seindah yang ia bayangkan. Kesulitan finansial karena cerita komiknya yang dianggap payah membuat ia merasa terintimidasi. Hinga akhirnya ia menciptakan sebuah karya Web Toon tentang anggot intelejen negara. Namun karena karyanya di Web Toon itu, ia harus berurusan kembali dengan 2 kubu sekaligus: badan intelejen negara dan juga musuh negara.  

Review Hitman: Agent Jun (2020)

Alasan utama mengapa Hitman: Agent Jun lebih tepat untuk dikategorisasikan sebagai film komedi sebagai genre utamanya ketimbang aksi adalah karena komedi yang ada dari film ini lebih terasa mendominasi ketimbang ceritanya. Cerita yang dibuat dibiarkan general dengan fokus utama komikus mantan pembunuh bayaran, lalu timeline dari cerita tersebut disusupi dengan komedi-komedi yang cukup pintar.



Secara cerita, film ini jelas menawarkan cerita yang berbeda dari film-film komedi aksi yang ada di pasaran. Film ini hadir dengan cukup berbeda dengan tema pembunuh bayaran yang banting setir menjadi komikus lalu berfokus pada kehidupan kontras antara pembunuh bayaran dengan pembuat komik yang berkeluarga. Dengan latar seperti itu, film ini mampu menawarkan sebuah komedi yang sangat baik. Bisa dibilang sangat baik karena komedi yang dituangkan terbilang absurd, namun tidak annoying. 

Film ini kemudian mengingatkan saya dengan film Luck Key (2016), sebuah film aksi komedi Korea yang merupakan remake dari film Jepang dengan judul sama. Bisa dibilang film ini memiliki satu warna dengan film Luck Key, yang berfokus pada komedi tentang jagoan yang banting setir dan mengerjakan sesuatu yang sangat kontras dari pekerjaan sebelumnya, hingga akhirnya elemen dari 'pekerjaan sebelumnya' datang kembali ke kehidupannya.