Tata Cara Membuat CV (Curriculum Vitae) yang Ambis dan Benar bagi Mahasiswa Undergraduate untuk Magang: Tanpa Relasi!?


Banyak mahasiswa undergraduate dalam praktiknya merasa bingung dan dilema karena tidak mengetahui parameter yang tepat dalam membuat Curriculum Vitae (CV). Ada yang minim wawasan terhadap dunia profesional dan kurang pengalaman organisasional, ada juga yang memiliki banyak bekal baik secara skill dan kemampuan berorganisasi namun tak kunjung juga dipanggil oleh perusahaan yang sudah dilamarnya. Pada akhirnya, keduanya akan berakhir kecewa, lalu menerka-nerka: CV seperti apa yang cukup ampuh untuk menaklukkan entitas yang diincar (Perusahaan/NGO/dkk)? 

Jika saya formulasikan berdasarkan pengalaman, saya akan menyimpulkan bahwa CV yang 'menarik perhatian' para HRD/Human Capital adalah CV yang atraktif. Dan atraktif dalam konteks ini adalah dapat mencitrakan kemampuan individual + kemampuan kerjasama (kolektif) yang kita miliki. Sederhananya, ketika memilih kandidat mana yang ingin mereka panggil interview, para HRD akan menjustifikasi kandidat mana yang memiliki skill individual yang relevan dengan pekerjaan terkait dan apakah kandidat tersebut dapat bekerjasama dalam tim dengan baik. Oleh karenanya, cukup penting bagi mahasiswa undergraduate untuk dapat mencitrakan kemampuan individulnya (Lomba/Volunteer/Sertifikat/Partisipasi dalam ajang tertentu) dan kemampuan organisasinya (pengalaman organisasi semasa kuliah, pengalaman kerja/part time/magang)?


Atraktif = mampu mencitrakan kemampuan individual + organisasional

Namun pada praktiknya, banyak mahasiswa berprestasi dengan kemampuan individual mumpuni dan pengalaman organisasi yang baik tetap saja 'sulit' untuk menaklukkan perusahaan yang ditujunya. Dalam kasus ini, mahasiswa tersebut mungkin telah 'memenuhi syarat' dalam konteks kemampuan individual dan organisasional, namun sayangnya ia belum memenuhi syarat untuk dapat melakukan personal branding yang ambis dan benar untuk mencitrakan dirinya sendiri. Bekalnya ada, namun kemampuan untuk mempresentasikan bekal tersebut yang mungkin masih dinilai kurang sehingga para HRD memilih untuk tidak melanjutkan sebelum sempat mencicipi 'rasa' dari bekal tersebut. 

Mari kita berhenti dan menerka-nerka sejenak. Tipe mahasiswa udnergraduate yang mana kah kita: yang belum memiliki bekal, yang sudah memiliki bekal, atau yang sudah memiliki bekal namun tidak tahu cara untuk mencitrakannya? Beda dianogsis, beda juga obatnya.  

Untuk mempermudah pemahaman lebih lanjut, mari kita redefinisikan CV yang 'atraktif' sebagai CV yang ambis dan benar agar terkesan lebih relevan dengan istilah anak kuliahan. CV yang ambis dan benar seyogyanya mengandung unsur lomba, organisasi, beasiswa, sertifikat, dan beberapa pengalaman lainnya: kurang ambis apa lagi, coba?  Dan, agar menjadi pembahasan yang lebih komprehensif juga mendalam, berikut poin-poin penting elaborasi Tata Cara Membuat CV (Curriculum Vitae) yang Ambis dan Benar ala Mahasiswa Undergraduate:


  • Relasi: Penting Gak Sih?

Memanfaatkan relasi untuk berkarir sepertinya sudah menjadi hal 'biasa' bagi kebanyakan orang. Saking biasanya, sampai muncul doktrin bagi beberapa orang bahwa untuk mendapatkan pekerjaan maka memiliki relasi adalah hal yang mutlak. Namun sesungguhnya, sepenting itu kah relasi? Apakah relasi itu benar-benar penting dan mutlak harus dimiliki dalam berkarir? Tidak, tentu saja tidak. Dengan CV yang ambis dan benar, kita dapat menaklukkan perusahaan incaran secara independen, percayalah.

Relasi mungkin penting, tapi bukan yang terpenting. Independensi jauh lebih penting ketimbang 'pertolongan' orang lain. Tentu tidak salah jika seseorang memanfaatkan relasi sebagai channelnya untuk berkarir, terlebih jika orang tersebut memang memiliki bobot dan kualitasnya sendiri. Namun bagaimanapun, jika prespektif kita telah terpatri bahwa relasi adalah hal terpenting dalam berkarir dan tanpa relasi kita sebagai kandidat akan kesulitan mendapatkan pekerjaan, maka secara tidak langsung kita telah membunuh independensi dan daya eksplor kita sendiri dengan prespektif yang benar-benar toxic. Relasi memang mungkin penting, memanfaatkannya sah-sah saja dan etis-etis saja, namun perlu diingat bahwa relasi itu untuk mempermudah proses, bukan mandatory. Yang menjadi mandatory adalah bagaimana seorang kandidat dapat menaklukkan perusahaan yang diincarnya dengan menawarkan potensi diri ketimbang menaklukkan perusahan karena kenal Ibu/Bapak ini. 


  • Meramu Kemampuan Individual

Kembali ke rumus awal bahwa untuk menjadi kandidat yang atraktif bagi HRD adalah memiliki kemampuan individual dan organisasional, pertanyaannya kemudian adalah, hal-hal apa saja yang dapat menunjukkan kemampuan individual seorang kandidat? Apakah kita harus mengelaborasi 'skill' kita seperti bisa ms.word, power point, dkk untuk dapat mencitrakan kemampuan individual dengan baik? Tidak, tentu tidak. Jika bahkan anak SD/SMP pun bisa Ms. Word, lalu untuk apa kita mencantumkan skill bisa aplikasi seperti itu secara tersurat? Lain halnya jika kita berada di jurusan IT dan mencantumkan kemampuan menguasai bahasa pemrograman Python, Css, Javascript, dan lain sebagainya. Atau, kita adalah anak DKV yang mencantumkan kemampuan dapat mengoperasikan Adobe Photoshop maupun Illustrator. Jika memang apa yang bisa kita operasikan bersifat khusus, maka cantumkanlah itu sebagai skill yang kemudian dapat menjadi salah satu nilai jual bagi kemampuan individual. Namun jika kita mencantumkan hal yang terlalu umum seperti bisa Ms. Word, ya, anak SMP juga bisa.

Dalam meramu kemampuan individual yang paling menjual, saya akan mengatakan bahwa seyogyanya kita berfokus kepada lomba atau penghargaan yang pernah kita dapatkan dan menjadikannya sebagai nilai jual paling umum dalam konteks kemampuan individual. Karena daftar lomba/penghargaan yang kita miliki merepresentasikan banyak hal. Ketika kita menjadi juara (entah 1,2,3) dalam lomba tertentu, maka kita telah menunjukkan bahwa kita memiliki jika kompetitif dan daya saing yang baik. Tentu, lomba sangat-sangat dan sangat mampu menjadi parameter utama bagi HRD untuk menilai kemampuan individual seorang kandidat. Lalu pertanyaannya adalah, bagaimana jika kita tidak memiliki daftar lomba apapun? Jawabannya cukup sederhana sebenarnya: jika masih ada cukup waktu untuk mendaftar lomba yang bisa diikuti, daftarlah dan jadikan itu sebagai pengalaman menarik. Mau lomba menulis nasional, lomba bikin web, lomba business idea, MUN, atau apapun itu. Namun jika tidak, mari kita beralih dari lomba ke beberapa hal lain yang mampu merepresentasikan kemampuan individual sebagai mahasiswa undergraduate.

Di samping lomba, tentu, ada beberapa elemen tak kalah penting lainnya yang dapat kita gunakan sebagai senjata untuk menunjukkan kemampuan individual. Kita bisa mengejar Beasiswa, pengalaman volunteer, pengalaman mengikuti ajang tertentu, pengalaman kursus dan mendapatkan sertifikat dan lain sebagainya. Beasiswa menjadi hal lain yang cukup penting disamping lomba/penghargaan yang pernah kita dapatkan karena beasiswa juga merepresentasikan sebuah proses yang membutuhkan kemampuan individual yang baik untuk mendapatkannya. Terlepas dari lomba dan beasiswa, seharusnya masih ada banyak hal yang dapat kita eksplor sendiri untuk dapat menggali dan mencitrakan kemampuan individual. Lalu, jika kita tidak memiliki lomba, beasiswa, volunteer, sertifikat, apakah itu berarti kita tidak memiliki kemampuan individual? Bullsh*t, sepertinya jarang ada orang yang tidak memiliki kemampuan individual sama sekali, yang banyak itu orang yang malas berpikir dan mengeksplor lebih dalam kemampuan individual apa yang bisa dijualnya.  


  • Pengalaman Organisasi = Keampuan Bekerjasama

Setelah kemampuan individual, kemampuan organisasional menjadi hal lain yang sangat penting dan sangat menjual. Jika kemampuan individual adalah tentang daya saing kita, maka kemampuan organisasi adalah tentang cara kita dalam bekerjasama. Memiliki beberapa pengalaman organisasi dengan jabatan tertentu di kampus tentu menjadi bekal yang baik karena kita telah merasakan dinamika organisasi yang berbeda-beda. Namun tidak melulu organisasi kampus, kita juga dapat mencitrakan kemampuan bekerjasama kita melalui pengalaman freelance, pengalaman part time, dan lain sebagainya.

Yang menjadi substansi pada poin ini adalah bagaimanapun pengalaman bekerjasama menjadi begitu krusial karena di dunia profesional, kerjasama tim menjadi hal yang sangat penting. Mengkomunikasikan ide ke tim eksternal maupun internal, mengawal sebuah campaign agar berjalan lancar, tentu hal-hal tersebut memerlukan kemampuan organisasional sebagai salah satu syarat utamanya.


  • IPK Gak Harus Tinggi-tinggi Amat

Untuk dapat menarik perhatian HRD, Apakah kita harus memiliki IPK yang tinggi? Harus 4, atau 3,9 atau 3,8? Tidak. Secara logis, tentu semakin tinggi IPK akan semakin menjual, namun jika tidak atraktif, mau IPK tinggi seperti apapun pada akhirnya akan kalah dengan yang atraktif. Ingat, atraktif adalah substansinya. Dan atraktif, berarti kemampuan individual plus kemampuan organisasional. 

Banyak kasus yang saya ketahui tentang teman-teman dengan IPK tinggi (katakan saja diatas 3,5) tapi tetap saja kesulitan untuk mendapatkan tempat magang yang mereka inginkan. Ya, ada yang IPK nya tinggi dan diingini perusahaan ada juga yang IPK tinggi tapi tetap saja kesulitan mendapatkan tempat magang. Karena kembali lagi, kita ulang sejenak, atraktif adalah substansinya, bukan IPK tinggi. Gak harus diatas 3,5 untuk bisa atraktif, diatas 3,1 itu fine, seharusnya. Dengan catatan, kemampuan individual dan organisasional terpenuhi. 


  • Mencitrakan untuk Menceritakan

Jong Un adalah seorang mahasiswa ambis di jurusan ilmu senjata nuklir kecepirit. Sebagai seorang mahasiswa ambis, Jong Un memiliki banyak lomba, pengalaman organisasinya juga banyak, tapi masih kesulitan ketika apply di tempat tertentu. Mengapa Demikian? Dalam kasus Jong Un ini, bisa kita simpulkan jika sesungguhnya Jong Un sudah cukup ambis namun belum cukup atraktif. Kembali ke rumus yang paling atas, bahwasannya atraktif adalah mampu mencitrakan kemampuan individual + organisasional. Dalam kasus Jong Un, ia sudah memiliki kemampuan individual yang baik dan pengalaman organisasi yang oke, namun sayangnya ia tidak dapat 'mencitrakan' pengalaman-pengalaman tersebut. Ini menjadi riskan, ketika seseorang memiliki koki memiliki makanan dengan cita rasa yang luar biasa enak, tapi tidak tahu cara mempresentasikannya hingga akhirnya pelanggan keburu hilang nafsu makan tanpa sempat mencicipi makanan luar biasanya itu.

Katakanlah, ada seorang mahasiswa ambis yang memenangkan lomba Business Idea bertaraf internasional di Universitas ABC yang disponsori oleh Google. Di CV-nya, mahasiswa tersebut menuliskan di kolom lomba: "Winner Of Business Idea Competition at ABC University". Apakah itu menjual? Tentu lombanya menjual, namun cara mahasiswa tersebut untuk mencitrakan lombanya sama sekali tidak menjual. Coba bayangkan jika ia menggantinya menjadi 1ST WINNER OF INTERNATIONAL BUSINESS IDEA COMPETION GOOGLE X ABC UNIVERSITY. Lebih intimidatif dan lebih menjual yang mana? Pakai capslock semua, taraf "internasional" di highlight, sponsor seperti Google juga dihighlight. Padahal, mahasiswa itu mengikuti dan memenangkan lomba yang sama, namun secara atraktifitas di dalam CV bisa berbeda ketika ia tidak mengetahui cara 'menjualnya'.


  • Emangnya Desain CV Harus Keren?

Poin ini menjadi pembahasan yang cukup menarik. Menurut riset dari TheLadders, rata-rata seorang HRD akan menghabiskan 6 detik untuk menilai CV seorang kandidat. Kalau kita bisa membuat 6 detik itu berubah menjadi 10 detik sehingga si HRD bisa lebih fokus kepada konten di CV kita, kenapa enggak? 

Pada awalnya, saya menganggap bahwa desain menjadi salah satu elemen penting untuk dapat dipanggil interview. Desain yang unik dan menarik akan menjadi nilai lebih bagi kita. Namun setelah saya mencoba magang di beberapa tempat, ternyata saya salah. Desain ternyata tidak 'sepenting' itu. Bahkan CV putih polos dengan konten kata-kata times new roman 12 pun dapat menjadi begitu powerful ketika memang isinya berkualitas. Suatu siang ketika saya sedang berada di tempat magang (di salah satu marketplace hijau) secara tak sengaja saya melihat CV seorang pelamar yang memiliki jabatan senior. Melihat desainnya saya langsung menagnggap CV tersebut membosankan, sampai akhirnya ketika saya melihat konten dari CV itu yang ambis dan benar, dan benar-benar ambis: ada banyak pengalaman lomba internasional dan pelatihan young leader bergengsi yang diikutinya. Salah dua yang saya ingat sampai sekarang adalah COPENHAGEN BUSINESS IDEA COMPETITION dan McKinsey Young Leader Program. Sejak saat itu saya paham, bahwa desain CV bukan merupakan faktor penting, terkecuali jika kita melamar ke divisi kreatif seperti Graphic Designer atau UX/UI Designer. 

Namun meskipun telah mengetahui jika desain tidak terlalu memiliki peran krusial, ketika membuat CV, saya tetap menyesuaikan dengan gaya sendiri. Desain CV terakhir saya bahkan adalah desain yang saya dapatkan dari membayar teman magang Graphic Designer di tempat magang terdahulu yang kemudian warna dan tata letaknya saya atur-atur sendiri dengan file AI (Adobe Illustrator). Jadi, emangnya harus punya desai CV keren agar mudah diterima di perusahaan tertentu? Tidak, desain yang berbobot akan sia-sia ada akhirnya jika konten CV-nya tidak berbobot. Namun jika sebuah CV dapat memiliki desain sekaligus konten yang berbobot, maka itu sudah pasti menjual. 


  • Ambil Aksi, Mari Mulai Melamar

Step terakhir adalah mengimplementasikan insight yang sudah didapatkan. Mencitrakan kemampuan individual dan organisasional, IPK gak harus tinggi-tinggi amat juga oke, Desain seadanya pun sah-sah saja selama kontennya berbobot. Jadi, ada baiknya kita mulai mengambil aksi dan test drive ke beberapa perusahaan di portal job online.

Ketika periode magang wajib dari universitas dulu, saya sempat melamar ke beberapa tempat (mostly startup dan perusahaan multinasional) dan belajar banyak hal dari situ. Mengeksplor hal-hal tersebut secara independen, tanpa relasi, ternyata cukup menyenangkan. Saya pernah berada di posisi menunggu kabar dengan gundah dulana, pernah ditolak karena gagal saat interview, pernah diterima, pernah juga menolak bahkan 'menyelingkuhi' tempat magang. Adapun sistem dari perusahaan sekarang adalah apply via portal job dengan flow email/telepon untuk menanyakan apakah kita available untuk interview di waktu tertentu -> interview invitations (mostly via email) -> interview -> offer letter beberapa hari kemudian (kalau diterima). Berikut adalah contoh email interview invitations dan offer letters dari beberapa tempat yang pernah secara 'serius' dan 'iseng' saya apply di semester 5,6 dan 8:


Walt Disney Singapore, Grab Indonesia, Tokopedia, Lazada Indonesia


PWC Indonesia, Klook Indonesia, Bytedance Indonesia, HappyFresh Indonesia


Kawan Lama, Bosch Rexroth, Fave Indonesia, Julo Finance, XWork

Akan ada banyak sekali pelajaran menarik yang bisa didapatkan di dunia magang/profesional. Dimulai dari menunggu dan berharap mendapatkan undangan interview dari perusahaan tertentu tapi tak kunjung mendapat kabar, merasa sulit beradaptasi di tempat magang, sampai ditolak oleh perusahaan yang menginterview. Bung, nona, santuy saja, karena semua itu merupakan hal yang bagus dan baik untuk self development. Menjadi tidak baik ketika kita memiliki perasaan kecewa yang berlarut-larut karena ekspektasi yang tidak sesuai. Untuk memperlengkap timeline di dunia profesional, jangan lupa untuk membuat akun linkedin. Linkedin adalah social media bagi para profesional yang cukup komplit baik untuk membangun personal branding (biar diapproach HR/Talent Acquisition), atau untuk apply job.  

Wejangan terakhir, berikut rekomendasi saya untuk platform job portal online yang dapat dijadikan rujukan untuk apply intern ataupun profesional:

  • Linkedin.com
  • Kalibrr.co.id
  • Glasdoor.com
  • id.Indeed.com
  • techinasia.com/jobs/indonesia

Kelima situs diatas adalah situs yang menurut saya paling asik untuk apply career. Linkedin, Kalibrr, Glasdoor, dan Indeed dipenuhi dengan perusahaan-perusahaan yang biasanya sudah memiliki nama dan tentunya menarik baik di industri apapun itu mulai dari startup sampai non startup, sementara segmen jobs di TechinAsia berisi perusahaan-perusahaan startup yang (biasanya) belum benar-benar memiliki nama besar. Menurut versi saya, lima situs diatas adalah yang terbaik.