The Naked Traveler 8: The Farewell - Sebuah Persembahan Terakhir Trinity untuk Seri TNT


Setelah mengajak pembaca jalan-jalan secara imajinatif dengan semua cerita traveling Trinity di buku The Naked Traveler (TNT) 1-7, pada awal tahun 2019 akhirnya seri TNT berakhir dengan The Naked Traveler 8 sebagai penutup. Bukan, bukan karena Trinity sudah tidak akan jalan-jalan lagi sehingga TNT yang ke 8 menjadi yang terakhir, melainkan karena satu dan lain hal dalam dunia industri buku Indonesia yang menjadi penyebabnya. 

Di TNT yang ke-8 Ini, Trinity kembali dengan sejumlah cerita seru petualangannya di berbagai belahan bumi dan juga opini seputar traveling. Mulai dari kisah petualangannya di Iran yang sistem perhotelannya super protektif, petualangan apesnya karena cedera kaki Kazakhstan, sampai pembahasan tentang beberapa pengalaman tidak mengenakan para traveler luar saat traveling di Indonesia. Menjadi semakin menarik karena secara gaya bercerita, Trinity tetap menjadi Trinity di TNT edisi terakhir ini. Dengan kemasan bahasa sehari-hari yang mudah untuk dicerna, kita akan dibawa berimajinasi (seperti di seri-seri TNT sebelumnya) bahwa kita sedang menjadi Trinity dan menikmati petualangannya kesana-sini.


Blurb:

Dalam edisi terakhir dari seri The Naked Traveler ini, kita melihat perjalanan panjang Trinity menuliskan rekaman perjalanannya menggenapi kunjungan ke-88 negara di dunia. Trinity menumpahkan hal-hal seru, yang bikin senang, kesal, geli, haru, sedih, dan bikin nagih – semua lagi-lagi menularkan virus untuk traveling. Dari perjalanan menyaksikan pesona Iceland yang overrated, menikmati megahnya alam Afganistan dari perbatasaan saat road trip di Asia Tengah, merasakan atmosfer Islam di Iran, menderitanya menjadi traveler difabel, hingga mencoba peruntungan kencan online di Eropa. Simak juga curhatan pembaca setia yang hidupnya berubah setelah membaca seri The Naked Traveler. Kali ini dua di antaranya turut berkontribusi menuliskan pengalaman mereka dalam bab #TNTEffect yang menambah keseruan buku ini. “The Naked Traveler” is over, but its spirit is immortalized right here, in print, forever.

Tetap Mengajak Pembaca Berpetualang dalam Imajinasi

Parameter bagi buku travel yang baik tentu adalah tentang bagaimana sang penulis mampu membawa pembaca berpetualang secara imajinatif melalui cerita yang dituliskan di bukunya. TNT bagi banyak orang tentu merupakan contoh series buku travel yang sangat sukses karena terbukti mampu membuat pembaca berpetualang ke berbagai macam belahan bumi hanya dengan duduk manis membacanya. Terutama, di seri ke 5 dan ke 6 yang memang berfokus pada petualangan di luar negeri. Saat kita diharuskan untuk menerapkan Social Distancing karena wabah COVID-19 seperti sekarang ini, buku TNT sejatinya merupakan salah satu solusi paling ampuh untuk membunuh rasa bosan. 

Pada TNT 8, seri terakhirnya, Trinity tetap menyajikan cerita-cerita traveling yang kemudian seakan-akan membuat kita juga ada disana dan membayangkan apa yang ia rasakan. Mulai dari Iceland, Wales, Da Nang dan Hanoi yang mewakili pesona Vietnam, Maldives, Taiwan, Kazakhstan, Iran, San Marino, Oman, dan petualangan-petualangan domestiknya tak pelak membuat kita 'ngebet' untuk bisa berpetualang dan merasakan sensasi yang sama. Selain petualangan yang 'keren-keren', cara Trinity menyampaikan petualangan tersebut juga terbilang pas sehinggan TNT baik dari seri pertama sampai dengan seri terakhir mampu dinikmati bagi banyak pihak.



Seperti beberapa seri TNT sebelumnya, TNT 8 juga dilengkapi dengan visualisasi dan ilustrasi yang menarik sebagai pelengkapnya. Total 256 halaman yang berisi cerita dan ilustrasi menarik bahkan bagi saya sebagai pembaca terasa agak 'kurang' untuk dapat mengucapkan salam perpisahan bagi seri TNT. Saya harus mengakui bahwa TNT sejatinya merupakan salah satu buku yang paling inspiratif. Beberapa perjalanan traveling yang pernah saya lakukan dan Bucketlist yang ingin saya lakukan bahkan juga didalangi oleh kisah yang pernah saya baca di TNT.

Tetap Menyajikan Opini Menarik ala Traveler Sesepuh

Prespektif dari Trinity selaku Traveler yang sudah sesepuh dan berpengalaman dalam dunia traveling bahkan sampai ke 88 negara memang tak bisa dipungkiri kualitasnya. Opini yang disampaikan Trinity dalam seri TNT bukan hanya masalah teori dan logika, namun juga tentang pengalaman langsung dari sejumlah agenda travelingnya. TNT 8 tetap menyajikan beberapa bab yang berisi opini menarik ala Trinity seperti halnya pada seri-seri sebelumnya. 

Dua bab pertama dari seri TNT ke 8 ini bahkan langsung menyajikan duel traveling zaman dulu dengan zaman sekarang. Ada komparasi yang cukup masif antara kepraktisan dan perbedaan gaya traveling antar generasi. Kalau dulu pesan tiket pesawat serba rumit, sekarang tinggal pesan lewat gadget. Kalau dulu, orang lebih memilih menikmati pemandangan yang ada dihadapannya, kalau sekarang orang (terutama generasi setelah generasi X) lebih suka untuk berfoto-foto ketimbang melihat pemandangan. POMO (Pleasuer of Missing Out) pun dipilih Trinity untuk menggantikan FOMO (Fear Of Missing Out) yang dinilainya dapat membuat ribet berbagai agenda traveling.

Ketika membaca opini-opini Trinity tentang traveling tersebut, saya sebagai pembaca merasa seakan mendapatkan insight dari sumber yang terpercaya. Karena bagaimanapun Trinity memiliki kredibilitas yang sangat tinggi sebagai seorang Traveler. Dan pada akhirnya, sebagai salah seorang pembaca seluruh seri TNT, membaca seri terakhirnya membuat saya agak kurang rela untuk melanjutkan bacaan sampai dengan halaman terakhir. TNT bagaimanapun bagi saya merupakan salah satu buku tentang traveling yang pernah saya baca.