Marketing dalam dunia Startup tentu berbeda dengan marketing konvensional. Jika marketing konvensional erat kaitannya dengan sales yang tentu saja memiliki revenue sebagai parameternya, maka marketing ala startup masa kini adalah tentang 'branding' yang lebih erat kaitannya dengan event offline ataupun online. Jika dielaborasi lebih lanjut, branding akan memiliki beberapa parameternya sendiri seperti engagement, new user, sampai user retention. Dalam mengimplementasikan startegi marketing, banyak startup masa kini pada praktiknya mengandalkan konten-konten receh sebagai senjatanya. 

Bukan tanpa alasan, target pasar dan perkembangan budaya tentu menjadi faktor utama dalam transformasi strategi marketing dari startup-startup untuk menjaga eksistensinya. Baik di media online seperti social media, sampai dengan media offline seperti halnya iklan Out Of Home (OOH) masing-masing startup. Sebelumnya, mari kita perhatikan 2 konten receh ala stratup kekinian berikut ini:
Grab vs Gojek, Twitter

Billboard (Iklan OOH) Shopee

Jika diperhatikan lebih lanjut, sindir menyindir di twitter dengan gaya humor seperti yang dilakukan oleh Grab Indonesia dan GOJEK tentu bukan merupakan tweet war melainkan merupakan sebuah konten receh yang kemudian mampu menghasilkan banyak likes dan retweet dari masing-masing akun. Dengan 'konten seperti itu' kita dapat menyimpulkan followers akan merasa terhibur, dan ketika followers terhibur maka akun akan mendapatkan engagement. Tentu konten Twitter diatas hanya merupakan salah satu contoh dari kerecehan marketing startup, selebihnya Social Media lain seperti Instagram dan Youtube tidak ketinggalan untuk dijadikan platform menyebar konten receh.

Selain konten online, mari kita beralih ke konten offline seperti halnya billboard atau iklah OOH Shopee seperti pada gambar diatas. Gambar diatas menunjukkan Didi Kempot selaku brand ambassador Shopee didandani ala Boyband dengan 7 baju berbeda dan detail (B)isa (T)uku (S)aiki. Dimana tanpa perlu terlalu berlama-lama berpikir, kita dapat menyimpulkan jika ide iklan tersebut adalah salah satu respon untuk Tokopedia selaku kompetitor terbesar Shopee yang menggaet BTS sebagai brand ambassadornya. Receh? tentu saja, dan engagement dari iklan offline ini dapat dilihat dari viralnya iklan tersebut di media online. 

Tergantung Pasar, Sih

Meskipun terbukti cukup efektif untuk mendapatkan engagement, namun mengimplementasikan strategi dengan konten receh pun tergantung dengan pasar dari masing-masing startup. Startup harus cukup responsif untuk mengetahui apakah gaya receh mampu meraih perhatian user atau malah menjad blunder. Katakan saja edu tech seperti Ruang Guru yang 'mungkin' rasanya kurang cocok untuk menggunakan gaya receh karena sasaran pasar dan tema 'edukasi' yang dibawanya merupakan hal yang cukup serius.

Ketika berbicara tentang startup service on demands/ride hailing seperti GOJEK dan Grab, ataupun marketplace seperti Shopee dan Bukalapak, ataupun Fintech E-Wallet seperti OVO dan Dana, kita dapat menyimpulkan jika pasar mereka didominasi oleh masyarakat yang masih berada pada usia muda. Usia ini kemudian yang menjadi salah satu faktor penting tentang apakah konten receh akan efektif atau tidak. Kita katakan saja, mungkin orang tua berusia 60 tahun tidak akan terhibur dengan sindir menyindir di twitter ala Grab dan GOJEK seperti gambar diatas tadi, tapi anak muda tentu akan mengasosiasikan hal tersebut sebagai sebuah humor. 

Sampai Kapan Konten Receh Efektif?

Substansi dari keefektifan konten receh adalah daya hibur yang mampu melahirkan engagement. Jika ditanya sampai kapan konten seperti ini efektif, tentu tidak ada jawaban pasti ataupun spesifik. Semua kembali lagi ke perkembangan budaya. Apakah budaya 'receh' akan bertahan lama, apakah budaya social media tidak mengalami transformasi yang signifikan, dan lain sebagainya.

Tentu, dengan keadaan dan kondisi yang ada sekarang, kita dapat menginterpretasikan jika keefektifan konten receh akan bertahan dengan cukup lama. Terbukti dari startup-startup yang sebelumnya mungkin masih dengan persona dewasanya, kini mulai beralih menjadi receh-receh. Katakan saja Tokopedia yang sedari dulu terkenal dengan iklan seller story yang terbilang serius dan menginspirasi, kini bertransformasi juga untuk menempatkan humor di beberapa kontennya. Dan tentu saja, hal tersebut semakin mempertegas bahwa konten receh merupakan strategi yang cukup ampuh bagi marketing startup masa kini.