Gie, Su Hok Gie, seorang aktivis politik muda pada masa Orde Lama dan Orde Baru yang mungkin namanya asing bagi kebanyakan orang. Padahal, nama dan kisahnya sempat menjadi topik utama bagi John Maxwell dalam menulis buku berjudul Soe Hok-Gie: Diary of a Young Indonesian Intellectual. Kembali ke masa transisi Orde Lama ke Orde Baru, Su Hok Gie adalah aktivis yang giat mengkritik konsep diktator pada kedua masa. Karena baginya, kebenaran seharusnya menang melawan kebusukan politik. 

Dengan Nicholas Saputra yang memerankan sosok Su Hok Gie, Gie (2005) adalah sebuah film karya Riri Riza yang menceritakan secara sangat menarik biografi Su Hok Gie sebagai aktivis dan polemik di masa orde lama juga orde baru. Cerita tentang bagaimana duel ideologi, kepentingan dan kekuasaan terjadi dan tentang bagaimana puncak Semeru menjadi tempat terakhir Su Hok Gie menghembuskan nafas di usianya yang baru 27.

Sinopsis Gie (2005)

Dibesarkan dari keluarga keturunan Tionghoa yang berekonomi seadanya dan berdomisili di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Su Hok Gie atau yang biasanya dipanggil Gie merupakan pemuda idealis yang tidak ragu dan sungkan untuk mengkritik hal yang dia anggap tidak benar. Karakternya ini yang kemudian membuat ia tumbuh menjadi orang yang sangat berani dalam menyuarakan ketidakadilan di negaranya, Indonesia. Memprotes keputusan politik dan menyuarakan revolusi pada masa orde lama adalah makanannya sehari-hari. Kegigihannya kemudian membuat takjub banyak orang, termasuk Tan Tjin Han dan Herman Lantang selaku 2 sahabatnya sendiri.

Memasuki masa-masa kuliah, Gie merupakan mahasiswa di Universitas Indonesia yang aktif dalam organisasi MAPALA (Mahasiswa Pecinta Alam) dan juga aktif menyuarakan opini politiknya di organisasi-organisasi. Tetap dengan sikap idealis dan kegigihan melawan ketidakadilan, Gie kemudian menjadi salah satu sosok intelektual penting saat masa transisi Orde Lama ke Orde Baru. Dilema kemudian terjadi bagi Gie, karena ternyata Masa Orde Baru pun tidak lepas dari konsep kediktatoran yang ia anggap sebagai bentuk ketidakadilan. Pada akhirnya, meskipun rezim telah berganti, Gie tetap tidak berhenti menyuarakan pendapatnya.

Review Gie (2005)

Gie adalah film yang sempurna untuk memberikan wawasan terkait rezim Orde Lama dan Orde Baru. Kita dapat memahami bagaimana politik pada masa itu sangat berimplikasi pada durasi kekuasaan. Kita dapat memahami bagaimana duel ideologi merupakan hal yang sangat besar dalam konsep kenegaraan. Kita bahkan dapat mempelajari bahwa politik adalah sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Bahkan mungkin, sedekat nadi kita sediri.


Gaya penceritaan dalam bentuk 'narasi' dari karakter Su Hok Gie di setiap interval tahun dan waktu untuk menceritakan perkembangan politik yang terjadi merupakan salah satu hal yang sangat menarik dari film ini. Bukan hanya informatif bagi penonton, namun juga menyajikan gaya deskriptif yang nyaman untuk diikuti. Kita seakan-akan dibawa kembali ke masa Orde Lama dimana gejolak yang diciptakan oleh Partai Komunis Indonesia dan ideologi Komunisme terjadi secara sangat masif. Menariknya, disini kita tidak hanya akan disajikan 2 point of view yakni dari sisi yang memihak Partai Komunis dan sisi yang memihak anti Komunisme, namun juga ada point of view ketiga disini, yakni point of view dari Gie selaku pihak yang berusaha netral menjustifikasi situasi atas nama kebenaran.

Anggapan Gie tentang politik seharusnya takluk dengan kebenaran tentu merupakan sebuah tanggapan yang entah terlalu berani atau terlalu polos dan lugu. Namun harus diakui, film berdurasi 2 jam 20 menit adalah adalah film dengan cerita yang sangat menarik untuk diikuti. Pembagian interval yang informatif dan jelas, serta cerita perjuangan Gie sebagai aktivis sekaligus kritikus melalui tulisan-tulisannya dengan mengatasnamakan demokrasi merupakan komponen-komponen utama yang membangun rasa nyaman dalam mengikuti perjalanan Su Hok Gie di film Gie ini.

Saya merasa sedikit kecolongan karena batu menyadari bahwa industri film Indonesia ternyata memiliki film bertema politik sekeren film Gie ini. Bukan sesuatu yang mengejutkan sebenarnya, jika kita mengintip ada Riri Riza sebagai sutradara dibalik film ini. Dan tentu, peran Nicholas Saputra  kemudian menjadi aktor yang sangat 'pas' untuk memerankan karakter Su Hok Gie yang merupakan  pemberontak dan cukup gigih dalam menyuarakan kritik. Ya, tidak salah lagi, film ini adalah film yang sempurna untuk memberi wawasan tentang Biografi Su Hok Gie serta polemik pada rezim Orde Lama dan Orde Baru. Bisa jadi, salah satu film politik terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.