Rencana Merger OVO x Dana: Sekuat Itu Kah, GoPay?


Pertarungan di industri E-wallet Indonesia bisa jadi salah satu yang tersengit di Asia Tenggara. Posisi top 4 bukan hanya milik perusahaan Financial Technology (Fintech) swasta seperti GoPay, OVO ataupun Dana namun menyempil juga LinkAja sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ikut meramaikan persaingan. Satu tahun belakangan ini ramai terdengar isu rencana merger OVO dan Dana untuk dapat menaklukkan GoPay yang menduduki peringkat pertama pemain di industri ini. Yang menjadi tanda tanya besarnya kemudian adalah: Sekuat Itu Kah, GoPay?

Menurut riset dari iPrice Group dan App Annie yang dimuat oleh KataData, GoPay merupakan pemain terbesar di industri E-Wallet dimana pada Februari tahun 2019 saja tercatat total transaksinya sudah mencapai US$ 6,3 miliar atau sekitar Rp 89,5 triliun. Sementara OVO berada di peringkat kedua, Dana di peringkat ketiga, dan Link aja di peringka keempat. Sementara menurut riset kepada beberapa responden yang dilakukan oleh DailySocial yang juga dimuat oleh KataData, GoPay menjadi pemenang dimana dari total 651 responden, 83,3% menggunakan GoPay dan 81,4% pakai OVO. Kemudian yang menggunakan DANA 68,2% dan LinkAja 53%. Secara berturut-turut, pengguna Doku, Jenius, Paytren, iSaku, Sakuku, dan Uangku sebesar 19,7%, 16,7%, 13,2%, 12,1%, 10,3%, dan 6,3%. 

Meskipun GoPay terbilang stabil menjadi 'pemenang' dengan berbagai jenis parameter seperti jumlah pengguna, transaksi, ataupun popularitas, yang menjadi pertanyaan utama bagi banyak orang mengapa GoPay bisa sepowerful itu sampai-sampai OVO dan Dana berdiskusi untuk rencana merger? GoPay mungkin menjadi pemenang secara jumlah user ataupun transaksi, tapi jumlah yang dimiliki OVO secara logika tentu tidak akan berbeda jauh dari jumlah yang dimiliki GoPay sekarang. Terlebih, ekosistem GoPay utamanya ada di aplikasi Gojek, sementara ekosistem terbesar OVO bukan hanya di aplikasi OVO sendiri namun juga ada di Ekosistem Super App lainnya seperti Grab Indonesia dan Tokopedia. 

Nyatanya, GoPay Tidak Sekuat Itu

Banyak media dan pihak yang mensiasati bahwa rencana merger OVO dan Dana adalah bentuk dari strategi untuk memenangkan pertarungan melawan GoPay. Namun jika kita berpikir logis sejenak dan berkaca kepada data, nyatanya, GoPay tidak sekuat itu. 

Pada 2019, Bank Indonesia menyebut bahwa OVO merupakan E-wallet dengan transaksi terbesar di Indonesia dimana pada semester pertama di tahun itu tercatat total transaksi dari pembayaran digital adalah sebesar Rp. 56,1 Triliun dan  OVO menumbang 37% atau sekitar Rp. 20,8 Triliun. Sedangkan porsi GoPay saat itu 17% atau sekitar 9,5 Triliun sementara Dana dan LinAja berkontribusi sebesar 10% dan juga 3%. Dari data tersebut kemudian kita dapat menginterpretasikan bahwa performa OVO bahkan lebih baik ketimbang GoPay ketika kita berbicara soal Gross Merchandise Value (GMV).



Menurut data dari CNBC Indonesia, pada 2019 aplikasi Gojek yang merupakan ekosistem utama GoPay telah diunduh 142 juta kali sementara menurut data dari KataData OVO telah terhubung atau terunduh sebanyak 115 juta kali. Ya, benar dalam konteks jumlah pengguna OVO tidak sebanyak jumlah unduah aplikasi GOJEK. Namun perlu digarisbawahi juga jika OVO juga terasosiasi dengan Tokopedia dan Grab Indonesia. 

Berkaca dari data diatas yang menunjukkan bahwa persaingan GoPay dan OVO sebenarnya merupakan persaingan yang teramat sangat ketat dimana GoPay dan OVO masih saling salip menyalip, apakah rencana OVO untuk merger dengan Dana adalah sebuah terobosan atau malah kehabisan akal?

Pada akhir 2019, pengguna Dana menyentuh angka 35 juta dengan 87.500 mitra UMKM. Ant Financial yang merupakan Fintech besutan Aliaba adalah salah satu investor utama Dana. Bukalapak dan Tix mungkin menjadi ekosistem terbesar Dana disamping aplikasinya sendiri. Tentu, jika sampai melakukan merger dengan OVO, secara data baik total user, GMV, popularitas, unifikasi OVO dan Dana akan berada diatas GoPay. Namun, Apakah perlu? Apakah alasan utama rencana merger tersebut hanya untuk mengalahkan GoPay dan memantapkan diri menjadi yang terbaik? 

Alasan Utama Merger OVO x Dana: Efisiensi Modal?



Terlalu mengawang-ngawang sesungguhnya jika kita menyimpulkan bahwa rencara Merger OVO dengan Dana hanya untuk mengalahkan GoPay Semata. Untuk menginterpretasi agenda utama keduanya melakukan rencana merger, kita harus mengamati kas/modal dari kedua Startup secara garis besar. Pada akhir tahun 2019, OVO akhirnya melepaskan 2/3 sahamnya dengan alasan tidak kuat bakar-bakar duit untuk promo. Sementara Dana, investasi yang masuk masih dirasa 'aman' namun sebagai startup yang belum bergelar unicorn, merger dengan OVO adalah sebuah langkah untuk 'naik kelas' baik secara valuasi maupun user.

Sehingga dalam hal ini, merger adalah opsi yang menjadi win-win solution bagi kedua dompet digital ini. Bagi keduanya, merger adalah langkah untuk memperluas pangsa pasar, memperbesar valuasi, dan tentunya menggabungkan modal yang dimiliki agar bisa diefisiensi. Jika keduanya bergabung, maka modal yang dimiliki untuk 'bakar-bakar duit' akan lebih besar. Modal untuk bakar-bakar duit entah untuk memberikan promo akan menjadi lebih efisien karena modal tersebut akan menjadi 2 modal yang diarahkan pada 1 pasar, 1 metode, dan 1 tujuang yang sama. 

Kekuatan modal yang dimiliki oleh OVO dan Dana tentu berbeda dengan Gojek. Gojek mungkin akan sukar untuk mengatakan kepada publik bahwa mereka tidak kuat untuk bakar-bakar uang seperti yang dilakukan oleh OVO, karena investor dibaliknya memberikan sebuah pijakan yang kuat bagi Gojek untuk dapat memiliki arus modal yang stabil. Ada Google, Tencent, Facebook, Paypal, dan investor-investor ternama lainnya yang memberikan modal bagi Gojek dimana hal ini dapat menjadi justifikasi bahwa Gopay yang merupakan produk dari Gojek akan stabil-stabil saja secara modal. Sementara OVO, meskipun pencapaian mereka secara jumlah pengguna, nilai transaksi dan popularitas terbilang besar dan saling salip menyalip dengan GoPay, namun secara modal mereka dibawah Lippo Group terbilang sangat rentan karena tidak memiliki bekingan investor-investor global nan loyal seperti halnya yang dimiliki Gojek. 

Sehingga pada akhirnya, kita dapat menarik kesimpulan bahwa merger antara OVO dengan Dana adalah untuk mengoptimalkan efisiensi modal serta memperbesar pangsa pasar, jika unifikasi diantara keduanya dapat mengalahkan GoPay maka itu merupakan sebuah bonus, bukan agenda utama. Karena bagaimanapun, investor dibalik Gojek terlalu kuat untuk dapat dikalahkan sehingga merger menjadi langkah yang cukup tepat untuk mendapatkan win-win solution.