Steel Rain 2 (2020) adalah sebuah sequel yang terbilang cukup fair. Setelah di Steel Rain (2017) pertama unifikasi Korea digemakan dengan cara 'memojokan' Amerika Serikat sebagai super power yang suka mengadu domba, di Steel Rain 2 kali ini China menjadi super power berikutnya yang dipojokkan. Bahkan, Jepang tak ketinggalan digambarkan sebagai aliansi yang bisa berkhianat. Ya, cukup fair, setelah sebelumnya kaum liberalis yang disikut, sekarang kaum komunis dan sosialis juga ikut disikut.

Ada China, Jepang, Korea Selatan, Korea Utara dan (tentunya, lagi dan lagi) intervensi Amerika Serikat yang menghiasi gambaran menegangkannya isu keamanan internasional Asia Timur di Steel Rain 2. Film ini juga diwarnai dengan komedi dan wawasan sejarah yang sangat menarik. Tenang saja, meskipun memiliki tema yang sama dengan Steel Rain pertama yakni tentang unifikasi Korea, Steel Rain 2 bukanlah sequel yang memiliki kesambungan cerita dengan Steel Rain sebelumnya. Jadi, penonton tetap dapat mengerti jalan cerita Steel Rain 2 meski belum menyaksikan Steel Rain yang pertama.

Film ini menawarkan cerita dinamika politik dan isu keamanan di kawasan Asia Timur dengan sangat menarik. Namun perlu diakui, bahwa esensi dari dinamika politik dan keamanan yang ada akan lebih terasa jika penonton memang memiliki wawasan tentang "peta" politik di kawasan Asia Timur. Komunis mesra dengan komunis dan liberal mesra dengan liberal yang kemudian membuat China merupakan sekutu kuat Korea Utara, sementara Jepang dan Korea Selatan merupakan satu aliansi namun bukan karena mereka sama-sama memiliki hubungan yang sangat baik melainkan karena mereka memiliki ketergantungan kekuatan militer terhadap Amerika. Balance of power dan penggambaran interest dari masing-masing negara yang disajikan di Steel Rain 2 memiliki relevansi yang sangat tinggi dengan realita. 


Sinopsis Steel Rain 2 (2020)

Menciptakan perdamaian di semenanjung Korea tidak pernah menjadi hal yang mudah bagi siapapun. Sebagai Presiden Korea Selatan, Han Kyeong-Jae berusaha untuk memperjuangkan unifikasi Korea dengan mengupayakan perjanjian damai Korea Utara dan Amerika. Sayangnya, Yoo Yeon-Seok selaku Presiden Korea Utara dan Angus Macfadyen selaku Presiden Amerika Serikat terlalu mementingkan ego partainya masing-masing. Perjanjian damai pun seakan hanya menjadi mimpi semata mengingat denuklirisasi yang diinginkan Amerika namun tidak diinginkan Korea Utara menjadi babak baru ketegangan politik dan keamanan antara keduanya.

Sialnya, belum sempat mereka berdiskusi lebih lanjut, komandan keamanan Korea Utara yang pro China membelot dan berusaha melakukan kudeta dengan cara menjadikan Presiden Amerika, Presiden Korea Selatan, dan Presiden Korea Utara. Ketegangan pun terjadi karena aksi sandera menyandera membuat Asia Timur berada di ambang perang dunia selanjutnya. 

Review Steel Rain 2 (2020)

Film ini menawarkan cerita politik yang menarik. Namun, perlu diakui pemilihan tokoh Presiden disini mungkin agak mengganggu. Presiden Korea Selatan diperankan oleh Jung Woo Sung, namun rasanya akan lebih pas jika Presiden Korea Selatan diperankan oleh sosok yang lebih tua. Presiden Korea Utara di film ini terlihat terlalu fakboi dan berlebihan, sementara Presiden Amerika entah mengapa juga terasa terlalu berlebihan.

Meskipun, perlu diakui juga dengan karakter masing-masing, ketiganya sukses menyajikan komedi cerdas yang merepresentasikan background masing-masing ideologi negara.


Perlu ditekankan kembali bahwa film ini akan terasa sangat relevan dengan kondisi politik internasional jika penonton memang aware dengan peta politik yang ada. Karena bagaimanapun, ada beberapa pembahasan seperti komedi dan sarkasme yang mengarah kepada sifat atau ideologi masing-masing negara. Namun terlepas dari itu semua, film ini juga menyajikan bagaimana diplomasi dan lobi berlangsung di kalangan petinggi negara dan ego masing-masing negara kerap menjadi penghalang utamanya. 

Secara visualisasi bisa dibilang penggarapan dan kualitasnya sama primanya seperti Steel Rain sebelumnya. Selain pemeran para Presiden yang dirasa kurang pas, kalau ada yang bisa ditambahkan menjadi kekurangan dari film ini adalah adegan menuju akhir film yang terlalu lama bergelut dengan aksi pertempuran menggunakan alutsita. Awalnya sih seru, tapi kalau pertempurannya kelamaan kan bosen juga, gitu. 

Dengan durasi 2 jam 11 menit, film ini adalah film yang layak untuk direkomendasikan terutama bagi kaum yang cukup aware dengan politik internasional.