Kenapa Tokopedia, Gojek, Grab dan Bukalapak Melirik Warung dalam Bisnis Digital?



Pada tanggal 10 September 2020 kemarin, Gojek meluncurkan GoToko sebagai produk terbarunya yang menghubungkan pelaku usaha warung kelontong dengan distributor atau produsen barang kemasan ternama. Jauh sebelum GoToko, beberapa startup Decacorn dan Unicorn di Indonesia bahkan sudah terlebih dahulu merambah bisnis pemberdayaan warung secara digital. Ada Grab dengan GrabKios, ada Tokopedia dengan Mitra Tokopedia, dan Bukalapak dengan Mitra Bukalapak. Pertanyaannya kemudian adalah, kenapa startup ternama melirik warung dalam berbisnis digital? Prospek apa yang dimiliki warung? 

Setidaknya sebelum pandemi COVID-19, Menurut pernyataan menteri Kooperasi dan UKM pada tahun 2019, ada sekitar 3,5 juta warung di Indonesia. Jumlah tersebut tentu mengindikasikan bahwa ekosistem warung atau toko kelontong di Indonesia memiliki potensi serta dampak yang besar bagi ekonomi nasional. Ekosistem ini semakin menarik tentunya mengingat startup-startup dari berbagai macam industri mulai melirik ekosistem warung untuk diberdayakan. 

Bukan hanya startup-startup ternama seperti Tokopedia, Gojek, Grab dan Bukalapak, jika ditilik lebih lanjut masih ada beberapa nama lainnya yang melirik warung sebagai market seperti Payfazz, Akulaku, sampai Warung Pintar. Persaingan para startup untuk memberdayakan warung ini semakin menegaskan bahwa warung dan toko kelontong adalah usaha mikro yang tak lekang oleh waktu. Ketika zaman berganti, 'permainan' pada industri warung pun ikut bertransformasi. Tentu, dengan digital sebagai penggeraknya. 

Ling Shou Tong: Pionir untuk Model Bisnis Digitalisasi Warung?

Bukalapak mungkin menjadi pemain pertama di Indonesia dimana mereka memulai Mitra Bukalapak pada tahun 2017. Namun jika ditanya siapa pelopor atau pionir dari model bisnis digitalisasi warung ini, Ling Shou Tong (零售通) mungkin adalah jawaban yang paling akurat. Ling Shou Tong adalah platform buatan Alibaba yang diluncurkan pada tahun 2016 dibawah divisi New Retail dengan O2O (Online to Offline) sebagai model bisnis utamanya. 
 
Jika diterjemahkan, Ling Shou Tong (零售通) memiliki arti "retail integrated". Ya, tidak hanya menawarkan platform yang menjembatani pemilik toko kelontong dengan distributor, Ling Shou Tong juga menawarkan sebuah inovasi dalam bentuk rebranding warung yang diintegrasikan ke TMall dimana tentunya warung-warung yang direbranding dibuat menjadi lebih modern. Gaya bisnis Ling Shou Tong inilah yang kemudian mungkin menginspirasi startup-startup yang mulai bergerak untuk memberdayakan warung.

 
Tidak hanya Indonesia, mengingat secara konsep emerging economy dan peta bisnis mikro di Asia pasifik cenderung memiliki kesamaan, startup dengan model pemberdayaan warung lainnya seperti m.Paani dari India atau GROWSARI dari Filipina bisa jadi merupakan nama lain dari negara lain yang juga terinspirasi oleh model bisnis Ling Shou Tong. 

Meskipun bisnis digital merambah warung sudah cukup menjamur di hari ini, namun sama seperti halnya industri-industri lainnya, startup yang memiliki peluang lebih besar untuk bertumbuh besar pada industri ini adalah startup yang sudah tancap gas terlebih dahulu. Tentu parameter utama dari kesuksesan dari masing-masing aplikator adalah sales yang terakumulasi di platform yang sudah disediakan. GMV kemudian akan sangat dipengaruhi oleh total mitra yang sudah diberdayakan di platform terkait. Dan tentunya, total mitra merujuk kepada banyaknya warung yang berhasil diakusisi dan diajak bergabung. Jika suatu startup sudah tancap gas terlebih dahulu, maka bisa dikatakan bahwa startup tersebut memiliki kemungkinan untuk mendapatkan basis pengguna yang lebih kuat ketimbang yang lainnya. Dalam hal ini, kita bisa menyimpulkan bahwa Mitra Bukalapak dan Mitra Tokopedia merupakan leading players pada industri digitalisasi warung ini.

Warung dan Digitalisasi

Warung dan digitalisasi bukanlah sebuah bentuk anomali. Namun warung dan digitalisasi adalah sebuah bentuk perkembangan zaman, sebuah transformasi pada omni channel retail dimana teknologi mampu merangkul toko kelontong yang secara model bisnis terbilang konvensional. Di satu sisi perusahaan teknologi atau startup terkait mencari profit di masa depan, di satu sisi startup tersebut juga memberikan dampak sosial dengan meberdayakan dan mengedukasi warung.

 
Dibalik ekosistem 3,5 juta warung di Indonesia, ada nominal yang begitu besar berputar setiap waktunya. Menurut data dari situs ini yang mengambil riset dari Credit Lyonnais Securities Asia (CLSA), warung tradisonal berkontribusi pada 65%-75% dari penjualan ritel dengan nilai rantai pasok produk ke warung tradisional mencapai US$58 miliar atau setara Rp. 817 triliun. Disini kita dapat menelaah, bahwa startup yang hadir kemudian berusaha mengambil peran untuk memotong jalur distribusi supply chain konvensional dimana jika kita cermati dari model bisnisnya, startup seperti Mitra Tokopedia dan Mitra Bukalapak berusaha menjadi jembatan "langsung" bagi warung dan distributor besar. 
 
Merambah warung dalam bisnis digitalnya menjadi cukup penting bagi startup sekelas Tokopedia, Gojek, Grab dan Bukalapak mengingat keempatnya merupakan startup besar dan mungkin bisa dibilang memiliki tendensi untuk menjadi super app. Dan pada akhirnya, super app adalah tentang seberapa luas dan kuat lini bisnis yang dimiliki. Disamping ada market cap dibalik ekosistem 3,5 juta warung di Indonesia, citra dari startup terkait tentu ikut meningkat ketika mampu memberdayakan dan memberikan dampak sosial kepada masyarakat warung. 

Post a Comment

0 Comments