Percaya atau enggak, susah rasanya untuk menemukan film tentang eksplorasi luar angkasa (terutama pencarian eksoplanet) yang make sense. Kebanyakan selalu ada unsur alien-aliennya. Padahal, kita belum pernah benar-benar tau wujud alien itu seperti apa karena belum ada bukti pastinya. Ending-endingnya, wujud alien sendiri pun dirancang sesuai gambaran sutradara dan kru filmnya, dengan kemampuan si alien yang juga terlalu fiktif.
 
Susah rasanya  menemukan film tentang eksplorasi luar angkasa lain yang bisa menyaingi atau setidaknya selevel dengan film Intersetllar (2014). Serius deh.
 

 

Kalaupun ada film tentang eksplorasi luar angkasa lain yang bisa dikategorikan bagus, pasti ada aja 'nanggungnya'. 
 
Katakan saja Ad Astra (2019), dimana ada salah satu misi fatal di film ini yang mencari kehidupan cerdas di tata surya sampai karakter ayah dari Roy (Brad Pitt) pergi ke Neptunus. Pertanyaannya adalah, kenapa nanggung amat nyari kehidupan cerdas cuma di tata surya? Merkurius dan Venus tentu terlalu panas untuk ditinggali, sehingga tidak mungkin ada kehidupan cerdas disana. Mars tidak memiliki kehidupan. Apalagi planet jovian mulai dari Jupiter, Saturnus, Uranus, sampai Neptunus yang semuanya merupakan planet gas. Kalaupun ada kehidupan, mungkin dari satelit planet Jupiter atau Saturnus seperti Titan ataupun Europa yang memungkinkan adanya air disana. Kalaupun ada kehidupan, kehidupan di satelit alami planet-planet gas itu akan lebih bersifat primitif ketimbang 'cerdas'. Jadi, ngapain nyari kehidupan 'cerdas' di tata surya? Nanggung amat kan, kenapa nggak sekalian ditambah dosis sci-fi nya, nyari worm hole, pergi ke sistem bintangnya Proxima Centauri untuk mendarat di Proxima B?  (Konteks: Proxima Centauri adalah bintang terdekat dari bumi, dan salah satu planetnya Proxima B dipercaya para ahli merupakan planet mirip bumi yang mengorbit di zona layak huni)
 
Begitupun film lain seperti Europa Report (2013) yang cukup menarik tentang eksplorasi Europa sebagai salah satu satelit Jupiter yang dipercaya memiliki kandungan air di dalamnya. Namun sayangnya alur cerita film ini agak plain dan terasa 'nanggung'. The Martian (2015) mungkin bisa menjadi kandidat kuat sebagai salah satu film sci-fi astronomi yang sangat menjanjikan karena make sense dan bercerita. Namun bagaimanapun, kalau diadu dengan Interstellar (2014), Martian pada akhirnya hanya merupakan survival movie yang kebetulan mengambil tempat di Mars.
 
Ya pokoknya, susah deh, nemuin film eksplorasi luar angkasa yang bisa sebagus Interstellar. Dear Christoper Nolan, we need Interstellar 2, Please!

Interstellar (2014) memang layak untuk dinobatkan sebagai masterpiece untuk kategori film scifi astronomi tentang eksplorasi luar angkasa. Ada beberapa point krusial menurut saya yang menjadi alasan kenapa film ini masih merupakan film eksplorasi luar angkasa terbaik dan belum ada film lain di kategori sejenis yang bisa mengalahkannya. Mulai dari unsur make sense sampai edukatif, berikut 3 alasan kenapa Interstellar (2014) merupakan masterpiece dan masih belum ada film scifi astronomi lain yang bisa mengalahkannya:

Pencarian Eksoplanet Layak Huni Tanpa 'Perang Melawan Alien'

Percaya atau tidak, faktor 'tidak adanya cerita perang melawan alien atau perang luar angkasa' ini menjadi salah satu faktor yang cukup penting untuk menilai  Interstellar (2014) merupakan film dengan cerita yang make sense. 
 
 
Selama ini manusia terlalu terpaku dengan keadaan 'bagaimana jika' planet kita dikunjungi makhluk lain sampai-sampai lupa kalau kita pun bisa mengunjungi planet lain dan menjadi alien bagi makhluk di planet tersebut. Interstellar (2014) menawarkan kisah menarik tentang manusia yang menjelajah eksoplanet layak huni dan mungkin saja menjadi pendatang di planet tersebut.
 
Bukan berarti manusia mustahil untuk berperang dengan alien atau makhluk dari planet lain, namun sekali lagi, kita belum benar-benar tau wujud alien ataupun makhluk dari planet lain itu seperti apa. Sehingga ketika divisualisasikan, visualisasinya akan terlalu konspiratif dan fiktif.
 

Visualisasi Bentuk Nyata Objek Luar Angkasa

Salah satu hal paling menarik dari film Interstellar (2014) ini adalah visualisasi objek luar angkasanya yang dibuat menyerupai gambaran para ilmuwan sehingga ilustrasi objek luar angkasa film ini terasa sangat relate dan edukatif.
 

Penampakan planet, lubang hitam, dan objek-objek luar angkasa lain yang disajikan di film ini dicitrakan sesuai dengan pengamatan para ilmuwan yang memang sudah lama meneliti benda langit menggunakan teleskop dan sudah divisualisasikan serta dipublikasikan ke masyarakat tentang bentuknya. Katakan saja Lubang Hitam 'Gargantua' di film ini yang secara citra memang menyerupai visualisasi dari penelitian para ahli. Ada piringan akresi, ada event horizon atau horizon peristiwa, dan memiliki gaya hisap yang mematikan. Adapun hal fiktif dari Gargantua ini adalah ketika Cooper tersedot kedalamnya dan 'malah flashback' ke memori-memorinya.

Film ini pun bisa disimpulkan sebagai film yang edukatif dan make sense karena mencitrakan objek langit sesuai pengamatan para ahli dan sekali lagi tentunya tanpa alien.   
 
Tidak Hanya Sekedar 'Menonton' Film, namun Juga 'Menemukan' Fakta Menarik Sains

Hal lain yang paling menarik dari Interstellar (2014) adalah tentang ilmu sains yang disajikan. Terutama, hal-hal terkait ruang dan waktu. Salah satunya permainan waktu di planet Miller dimana 1 jam di planet Miller setara 7 tahun di bumi. Planet ini menjadi objek yang sangat sangat menarik bukan hanya karena waktu tapi juga karena mengorbit dekat sekali dengan lubang hitam.
 
                   
 
Satu jam setara tujuh tahun menjadi salah satu hal yang paling menarik perhatian saya di film ini. Pertanyaan yang muncul adalah apakah hal ini mungkin untuk terjadi atau hanya merupakan fiksi belaka? Apa logika dari 1 jam = 7 tahun? Apa berarti dalam 1 jam planet tersebut sudah mengitari bintang induknya sampai 7 tahun (7 x 365 hari waktu bumi)? Pertanyaan ini memang sangat menarik untuk dibahas dan dicermati, sampai akhirnya saya menemukan video penjelasannya di youtube. Bukan hanya fiksi, ternyata hal tersebut memang bisa saja terjadi karena dilatasi waktu. Walaupun pada penjelasan video diatas, rasanya memang agak sulit untuk terjadi.
 
Planet Miller di film ini menyisakan banyak pertanyaan tentunya. Selain waktu, pertanyaan lain hadir dari orbitnya yang sangat dekat dengan lubang hitam Gargantua. Mungkin kah planet mengorbit dekat dengan lubang hitam dan suhunya pas untuk dikategorikan sebagai planet layak huni?  Kalaupun mengorbit dekat lubang hitam, apakah oribtnya akan stabil? Atau justru planet tersebut seharusnya tersedot masuk ke horizon peristiwa lubang hitam dan terjadi spagetifikasi? Ya banyak deh, pokoknya pertanyaan-pertanyaan challenging 

Pada akhirnya, bisa disimpulkan bahwa Intersteller (2014) merupakan film eksplorasi luar angkasa yang menjadi masterpiece bagi segelintir orang. Film ini tidak hanya menawarkan cerita yang menarik namun juga memberikan edukasi yang relate pada ilmu pengetahuan sesungguhnya. Terlepas dari apakah planet memang bisa mengorbit lubang hitam, ilmu pengetahuan yang paling debatable dari Interstellar (2014) adalah 'isi' dari lubang hitam yang digambarkannya.