Akhir-akhir ini, saham-saham teknologi sedang digoreng gila-gilaan di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sebut saja DCII yang naik 11.000% dari harga IPO, saham EDGE yang naik 252% dari awal Juni ini, dan beberapa saham bank mini yang lagi asik-asiknya digoreng dengan sentimen bank digital seperti katakan saja BBHI, BMAS, BNBA, NOBU, BACA, BINA dan lain sebagainya.

Hal ini mungkin bisa dianggap wajar mengingat 'gairah' market yang mungkin sudah sangat besar dan tak tertahankan lagi untuk menyambut IPO saham perusahaan teknologi ternama asal Indonesia sebut saja GOTO, Bukalapak, Traveloka, dan startup lainnya. Dan... di tengah besarnya gairah market, disitulah bandar ikut bermain mengambil kesempatan. Pom-pom sana, pom-pom sini, yang salah entry di harga tinggi besoknya dibanting habis-habisan.


Disclaimer: Tulisan ini bukan merupakan analisa fundamental, tulisan ini ditulis berdasarkan keresahan penulis tentang saham teknologi yang naik gila-gilaan dan agak membebani investor retail yang berniat menabung saham teknologi.

 

Sebagai salah seorang investor retail, saya pun memiliki antusias yang sangat besar pada saham teknologi. Hanya saja, pengalaman saya sampai dengan semester pertama 2021 ini (dimana belum ada startup ternama sama sekali yang melakukan IPO) yang menjadi persoalan adalah saham-saham teknologi yang saya definisikan 'cantik' biasanya berakhir dengan harga yang meroket dan melambung tinggi terbang jauh. Sebut saja, saham Bank Jago atau ARTO yang pernah saya ulas di tulisan berikut: klik link ini untuk membacanya.

Pada awalnya, saya memiliki ketertarikan yang besar terhadap saham ARTO. Banyak yang mempertanyakan fundamental ditambah pbv yang sudah cenderung mahal dari saham ARTO, namun berbicara soal masa depan dimana bank digital ini berada dibawah kepemimpnan Jerry Ng dan manajemen yang sangat menjanjikan serta terasosiasikan dengan Gojek atau lebih tepatnya Gopay, saya menganggap ARTO sebagai emiten yang sangat menarik untuk dikoleksi. 

Tentunya sebagai investor retail + fresh graduate, metode yang saya rencanakana dalah menabung saham atau dollar cost averaging. Namun ternyata, baru 1 bulan masuk ke ARTO, sudah tergoreng isu merger Gojek-Tokopedia. Baru 2 bulan masuk ke ARTO,  return-nya udah 100% lebih karena foreign/asing mulai curi-curi pandang. Dan setelah 6 bulan, akhirnya saya memutuskan untuk take profit (tp) di harga 13.000-an dengan return 200% lebih. Beberapa hari kemudian setelah saya tp, harganya naik jadi 14.000-an. Waduh, kacau, ternyata benar, sesuatu memang terlihat lebih berharga setelah bukan milik kita lagi.

Return 200% dalam 6 bulan tentu merupakan hal yang sangat baik mengingat entry price-nya bukan saat market crash. Tapi permasalahannya adalah.. sebagai investor retail yang berniat menabung saham, harga saham yang tiap bulan naik signifikan terus itu somehow menjadi permasalahan tersendiri. Baru juga nabung berapa lot, udah digoreng aja sama sentimen lainnya. Dari prespektif dolar cost averaging, Saham ini akan lebih menarik tentunya jika bisa menghasilkan return 200% bukan dalam 6 bulan tapi dalam 5-6 tahun, ketika kepemilikan lot kita sudah banyak juga tentunya seiring berjalannya waktu. 

Dan setelah keluar dari ARTO, saya berusaha untuk move on ke emiten yang tech related lainnya. Tentu, saya menanti IPO emiten unicorn/decacorn seperti GOTO/Traveloka. Namun karena masih belum memiliki kejelasan tanggal IPO, saya kemudian juga melakukan pencarian emiten 'cantik' untuk jangka panjang tentunya yang tidak berada di industri teknologi tapi tetap relate di industri teknologi, sehingga kemungkinan untuk naik drastis dalam waktu singkatnya cenderung kecil. 


Setelah melakukan analisa juga pencarian, saya menemukan emiten lainnya di IHSG yang menurut saya 'cantik' dan memenuhi kategori dimana emiten ini bukan emiten teknologi tapi sangat relate terhadap industri teknologi. Sehingga prospek kedepannya baik, dan.. tidak mudah digoreng bandar. Emiten ini secara tidak langsung memiliki kaitan dengan beberapa startup seperti Grab, Bukalapak, Dana dan OVO

Grab merupakan salah satu investor dari emiten ini. Dan emiten ini merupakan investor dari Bukalapak dan Dana (yang tentunya memiliki isu kuat untuk merger dengan OVO). Dan entah mengapa, secara konsep saya melihat emiten ini memiliki kemiripan dengan Softbank: perusahaan konglomerasi, punya banyak gurita bisnis, dan doyan teknologi.  Ada yang tau emiten apa yang saya maksud? Emiten itu adalah Elang Mahkota Teknologi (kode: EMTK).

 

EMTK: Softbank Rasa Lokal?

Saat lulus S1 tahun kemarin, topik dari penelitian skripsi saya adalah Softbank. Atau lebih tepatnya, investasi Softbank pada Start-up di Indonesia dimana saya berusaha menginterpretasi dampak dari investasi tersebut pada pertumbuhan ekonomi digital Indonesia pada rentang waktu tertentu. Meneliti Softbank selama beberapa waktu membuat saya memiliki sedikit insight tentang Softbank itu sendiri.

Setelah beberapa waktu mengamati EMTK, saya melihat kesamaan secara konsep antara Softbank dan EMTK dimana kedua perusahaan ini adalah perusahaan konglomerasi yang bukan merupakan perusahaan teknologi secara 'utuh' namun sangat sangat erat kaitannya dengan industri teknologi atau lebih tepatnya dari anak perusahaannya, investasi pada banyak start-up, serta masifnya teknologi yang diterapkan ke gurita bisnisnya.

source: public expose emtk 3 juni 2021
 

Jika Softbank business core-nya ada di perusahan telekomunikasi, maka business core dari Emtk adalah perusahaan media. Emtk Menginduki beberapa televisi nasional ternama seperti SCTV, Indosiar dan O Channel serta beberapa media digital publishing mulai dari Liputan 6, KapanLagi, Brilio sampai video platform online seperti vidio.com yang growth-nya sedang tinggi-tingginya di masa pandemi ini. Dan yang menarik, Emtk terasosiasi dengan beberapa start-up lokal seperto Bukalapak, Dana, Tix Id, sampai Qerja sebaga investornya. Softbank didirikan pada 1981, Emtk didirikan pada 1983. Keduanya bisa dibilang berawal dari perusahaan komputer, bertumbuh besar menjaid perusahan konglomerasi, dan tentunya 'doyan' berinvestasi di industri teknologi.  

Terlepas dari hobi investasi di industri teknologi, perlu diakui bahwa media-media yang terasosiasi dengan Emtk sendiri terbilang cukup menjanjikan. Dimulai dari media offline seperti SCTV & Indosiar, sampai media online seperti Liputan 6 sampai Brilio dan layanan berbagi video online: vidio.com. Menurut sumber, Monthly Active Users (MAU) dari vidio.com sudah menyentuh angka 72 juta pengguna dimana angka ini naik sebanyak 53% pada quartal pertama 2021 jika dibandingkan februari 2020. Jumlah pengguna berbayarnya pun sudah menyentuh angka 1,45 juta. Tentu hal ini menjadi growth yang bagus bagi vidio.com and Emtk dimana vidio.com sendiri bisa dibilang mulai menjadi penantang serius dari platform berbagi video lainnya seperti youtube.

 

Sentimen Portofolio Start-up & Sentimen Investor dibelakang Emtk

Salah satau bahan bakar utama penggerak harga dari emiten Emtk mungkin bukan dari fundamentalnya. Melainkan, sentimen-sentimen positif terkait investasi start-up baik sebagai investor, maupun sebagai pihak yang menerima investasi. 

Sebagai investor, tentu investasinya ke beberapa start-up seperti Bukalapak ataupun Dana dapat mempengaruhi pergerakan harga saham Emtk sendiri jika Buakalapak ataupun Dana memiliki sentimen baik positif ataupun negatif. Rencana IPO Bukalapak di bulan Juli nanti misalnya, ataupun rencana merger OVO dan Dana. Aksi korporasi yang dilakukan start-up yang menjadi portofolio Emtk jelas akan sangat mempengaruhi pergerakan saham Emtk sendir. Apalagi, pasca Stock Split 1:10 di tahun 2021 sehingga harga sahamnya menjadi lebih terjangkau untuk para investor retail.

Sebagai pihak yang menerima investasi, Emtk terbilang cukup menjanjikan. Grab merupakan salah satu investor dari Emtk dimana isu merger Dana x OVO tentu akan sangat penting bagi Grab dalam ekosistem E-walletnya apalagi setelah Gojek dan Tokopedia resmi bersatu dimana Gopay mungkin saja menjadi ekosistem baru bagi Tokopedia. Dan oleh karenanya, bisa jadi di masa mendatang Grab ikut menambah porsi kepemilikan saham Emtk-nya dan hal tersebut akan mempengaruhi harga dari Emtk sendiri. Secara investor perorangan, per hari ini Anthoni Salim selaku bos Indofood terpantau memiliki 9.08% saham Emtk. Tentu ini menjadi sentimen menarik bagi pasar mengingat emiten-emiten yang disuntik Anthoni Salim biasanya ikut diburu oleh market. 

Meskipun sentimen-sentimen positif baik dari start-up yang diinvestasikan maupun investor yang berinvestasi di Emtk mampu mempengaruhi harga dari saham Emtk di IHSG, namun pergerakan harganya tentu saja tidak sebrutal gorengan bandar. Apalagi, valuasi keseluruhan dari Emtk sendiri sudah terbilang cukup mahal saat ini. Sehingga pergerakan harga saham Emtk kalaupun naik mungkin tidak akan meroket secara brutal dalam jangka waktu pendek.





Pada akhirnya, dapat saya katakan bahwa market IHSG sudah sangat bergairah untuk menyambut emiten teknologi seperti GOTO dan juga start-up ternama lainnya. Saham-saham terkait teknologi pun menjadi bahan gorengan yang menarik bagi bandar sebelum adanya IPO beberapa start-up tersebut. Berinvestasi pada emiten seperti Emtk untuk jangka panjang dapat menjadi opsi yang cukup menarik tentunya mengingat Emtk terasosiasi dengan sangat kuat pada industri teknologi baik sebagai investor maupun pihak yang menerima investasi. Sehingga, kenaikan harganya pun tidak sesignifikan saham-saham lainnya yang suka diogoreng oleh bandar.