Kalau ditanya sektor apa yang paling sexy di IHSG setidaknya pada semester pertama 2021, mungkin sektor perbankan menjadi jawaban yang paling akurat. Bukan bank dengan kapitalisasi besar dan berfundamental luar biasa kuat seperti saham-saham Blue Chip, melainkan saham-saham bank mini yang lagi kencang-kencangnya di goreng isu bank digital. 

Dari data Google, jika kita bicara growth persentase saham-saham bank digital atau bank mini yang ada secara Year to Date atau sampai tulisan ini ditulis pada 23 Juli 2021, maka mendapatkan saham multibagger selama setengah tahun di saham bank digital atau saham bank mini itu rasanya jauh, jauh, dan jauh lebih mudah ketimbang mendapatkan saham multibagger di saham Blue  Chip lainnya. Secara Year to Date, Allo Bank (BBHI) naik 1,678%, Bank MNC Internasional (BABP) naik 592%, Bank Jago (ARTO) naik 365%, Bank Maspion (BMAS) naik 281%, Bank Bumi Arta (BNBA) naik 275%, Bank Ganesha (BGTG) naik 184%, Bank Neo Commerce (BBYB) naik 100.78%, Bank Nobu (NOBU) naik 100%. Dan tentu, masih ada beberapa bank lain lagi yang juga naik secara signifikan. Catatan menarik: kenaikan ini bukan karena market crash loh ya, melainkan memang murni karena gairah pasar.

Coba kita bandingkan growth Year to Date bank-bank digital ini dengan bank besar non digital lain di IHSG: Bank Syariah Indonesia (BRIS) naik 11%, Bank Mandiri (BMRI) -8%, Bank BRI (BBRI) -10% Bank BCA (BBCA) -11%, dan Bank BNI (BBNI) - 20,39%. Bayangkan di tahun lalu kita berinvestasi sebesar Rp. 10.000.000 ke BBHI (bank digital) dan BBNI (non digital, market cap besar). Apa yang terjadi? Investasi kita di BBHI naik jadi sekitar Rp. 170.000.000, sementara investasi kita di BBNI turun menjadi sekitar Rp. 8.000.000. 

Bikin geleng-geleng kepala? tentu saja. Beberapa investor mungkin dibuat beranda-andai bagaimana jika mereka bisa entry ke bank-bank digital ini setidaknya pada tahun lalu. Saya sendiri sempat entry ke ARTO dan mewatchlist NOBU & BBHI di Desember 2020 lalu. Namun sayangnya, sentimen pasar terhadap bank digital belum benar-benar 'segila' sekarang. Saya membayangkan jika seandainya saya masuk ke NOBU dan BBHI sejak desember tahun lalu, saya akan merasakan bagaimana mendapatkan 3 emiten multibagger (bahkan lebih) itu hanya butuh waktu setengah tahun. 

Namun tidak perlu berkecil hati tentunya, karena dengan atau tanpa entry di tahun lalu untuk prospek jangka panjang, kita sama-sama masih bisa mendapatkan cuan jangka pendek dan menengah dari sentimen bank digital. Tidak jarang emiten-emiten bank mini/digital menyentuh ARA dan rally berhari-hari. Selama kita entry dan take profit disaat yang tepat, dengan status sebagai investor retail pun kita sangat bisa cuan berkali-kali. 


*Disclaimer: Tulisan ini bukan merupakan ajakan untuk jual, beli atau hold suatu saham. Hanya semacam tulisan gaya-gayaan investor retail yang berharap bisa memberi insight tentang market bank digital untuk periode waktu tertentu.  

 

Awal Mula Gairah Bank Digital di IHSG?

Sebenarnya, awal mula gairah pasar terhadap bank digital di IHSG itu apa? Apakah karena ARTO yang kemudian diperkuat isu merger Gojek x Tokopedia di awal tahun 2021 ini? 

Sebagai individu yang cukup mengamati emiten bank digital sejak awal tahun, mungkin bisa saya bilang jika ARTO merupakan emiten 'panutan' yang merevolusi konsep 'sexy' nya bank digital di Indonesia. Namun, namun.... jika kita teliti lebih dalam, meskipun ARTO merupakan panutan, titik awal dari naiknya atau membludaknya gairah pasar terhadap setimen bank digital di IHSG bukan dari ARTO ataupun isu merger Gojek Tokopedia.

Awal mula dari membludaknya gairah pasar terhadap emiten bank digital di Indonesia adalah berita Bank Bumi Arta (BNBA) dan Bank Cpital Indonesia (BACA) yang dikabarkan mau dicaplok SEA Group, induk dari Shopee pada Februari 2021:

 

Dengan kisah garangnya ARTO yang naik ke angka 6000-7000an di Februari 2021, ditambah sentimen mau dicaplok Shopee, emiten BNBA dan BACA naik gila-gilaan bahkan Auto Reject Atas berhari-hari sampai di suspen BEI berkali-kali. Tidak lama setelah BNBA dan BACA yang ngebut secara gila, bank-bank mini dan bank digital lain pun 'kebagian' jatahnya. Perlahan, BBHI mulai dilirik, Nobu mulai dilirik, BBYB juga ikutan ngebut, dan bahkan sampai bank-bank mini yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan bank digital ikut digoreng.

Dan menurut analisa saya, ini lah awal mula dari gairah pasar terhadap bank digital di IHSG:  isu Shopee akusisi BNBA/BACA menjadi pemicu euforia masyarakat -> ARTO menjadi panutan -> bank-bank mini lain dengan cukup cermat mengkaitkan eksistensinya untuk menjadi bank digital -> market mulai bergairah dan bank-bank mini lain melejit -> bandar melihat peluang dari sesuatu yang belum pernah ada di IHSG sebelumnya. 

Walaupun setelahnya, euforia bank digital ini sempat mulai padam perlahan, pada akhirnya sentimen-sentimen teknologi di IHSG seperti IPO GOTO atau Bukalapak juga right issue dari masing-masing bank mini terkait melejitkan kembali peluang bagi para bandar untuk bermain kembali di emiten-emiten ini. Tentu ini merupakan peluang bagi investor retail untuk mengikuti permainan. Di satu sisi bandar cukup cermat dalam mebaca gairah market, di sisi lain retail juga harus cukup cermat jika tidak mau kolestrol dan dibanting oleh bandar.

 

Saat yang Tepat: Now or Never?
 

Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa periode ini merupakan momentum yang tepat untuk mendapatkan cuan jangka pendek dari saham bank digital?

Mungkin bisa dibilang saat ini adalah saat yang tepat karena emiten bank digital sedang memiliki 'demand' yang sangat besar. Kita bisa lihat fluktuasi pergerakan saham-saham bank digital yang masih bisa ARA dan rally berhari-hari, dan turun mungkin tidak terlalu dalam. Kalau ARB pun masih banyak yang masih mau serok bawah.

Momentum itu masih ada, setidaknya sampai sekarang ini. Untuk kedepannya, peta permainan mungkin bisa jadi berubah. Maksud saya, di hari ini bisa saja bank digital memiliki demand yang besar di IHSG, namun setahun dari sekarang atau berbulan-bulan dari sekarang demandnya menurun jauh. Terutama, jika saham-saham teknologi/startup mulai melantai di IHSG. Bisa jadi kecenderungan market dan bandar adalah untuk lebih memainkan saham-saham teknologi ketimbang bank digital yang tidak pure tech industry. Sebagai contoh, per hari ini mungkin Bukalapak dan GOTO menjadi 2 perusahaan teknologi yang paling ditunggu di IHSG. Iya, cuma 2 untuk periode ini, mungkin. 

Tapi setahun dari sekarang, kita mungkin saja kedatangan emiten dari startup lokal yang sekarang belum menjadi unicorn tapi berprospek sangat cerah di masa depan seperti Ajaib, Halodoc, Alodokter, HappyFresh, Ruang Guru, Akulaku, OVO DANA, Kredivo, dan masih banyak lagi. Jika saja startup-startup yang pure tech company ini melantai, sangat logis tentunya jika kita katakan gairah pasar akan cenderung mengarah ke emiten-emiten tersebut.

 

Watchlist Aja Dulu

Bagaimana cara investor retail pemula untuk mendapatkan cuan jangka pendek di saham bank digital? Apakah perlu sekuritas ataupun aplikasi khusus yang bisa membaca pergerakan saham secara mendetail sehingga kita bisa melakukan analisa teknikal?

Sepengalaman saya, aplikasi Ajaib pun sudah cukup karena cukup memuaskan secara UI dan UX. Selebihnya adalah perkara kapan harus entry dan kapan take profit. Mungkin akan sangat membantu jika ada investor yang memiliki aplikasi tertentu dan bisa menganalisa dengan real time dan baik titik support + resistance juga pola-pola yang dibentuk dari saham tersebut. Namun sejatinya, aplikasi Ajaib di Play Store pun cukup.

Hal pertama yang harus dilakukan adalah membuat satu kategori watchlist khusus berisi saham-saham bank mini/digital untuk memantau pergerakan saham-saham tersebut:

 


Ada kalanya ketika indeks saham lain seperti LQ45 merah, mayoritas dari kategori list bank mini hijau. Dan sebaliknya. Dengan adanya watchlist khusus, kita akan sangat dimudahkan untuk melihat pergerakan keseluruhan saham bank digital. Mana yang lagi naik, mana yang lagi turun, mana yang ARA dan mana yang ARB. Kemudian, kita juga bisa menilai apakah sektor bank digital ini sedang hijau dan digoreng abis-abisan atau lagi lesu-lesunya secara keseluruhan sehingga kita bisa memutuskan kapan harus masuk dan kapan 'memantau' dulu saja. 

 

Entry 1-4 Hari & Take Profit 10-50%?

Salah satu hal paling krusial untuk mendapatkan cuan jangka pendek berkali-kali dari emiten bank digital adalah timing. Retail harus tau kapan harus masuk, kapan wait and see dulu dan kapan harus take profit ketika sudah masuk. Dan timing sering kali mejadi dilema bagi para investor.

Untuk mendapatkan timing yang pas, kita harus mengerti pola/karakter dari pergerakan emiten-emiten bank digital yang ada. Dan itulah alasan mengapa membuat watchlist saham khusus untuk emiten-emiten bank digital ini begitu penting. Karena kita bisa membaca dan menggeneralisasi 'sentimen' untuk periode tertentu. Karena ketika mayoritas bank mini/digital lagi pada hijau, ada peluang bagi kita untuk entry entah di emiten bank digital yang masih merah, atau emiten jagoan yang baru rebound.

Karena bagaimanapun, pergerakan saham bank digital itu sangat dinamis. Ada kalanya harga sudah naik cukup tinggi di hari ini, dan ternyata masih bisa rally atau bahkan ARA lagi di keesokan harinya. Ada kalanya harga sudah naik cukup tinggi menuju ARA, lalu dibanting oleh bandar ke zona merah. Ada kalanya juga harga saham ARB dan terkoreksi di 6%-7%, dan di hari yang sama di serok bawah oleh bandar dan harga kembali hijau bahkan bisa naik diatas 10% setelah sebelumnya ARB.

Secara analisa, mungkin bisa dibilang analisa teknikal menjadi salah satu senjata utama banyak trader untuk bisa profit di saham-saham bank digital. Tapi menurut saya pribadi, terlepas dari teknikal, hal yang memotori saham-saham bank mini/digital untuk rally lebih kepada sentimental. Sebagai contoh: Right Issue, kerjasama, Merger & Acquisition (M & A), dan selebihnya mungkin lebih kepada pergerakan bandar. 

Jadi, pada konteks ini, bagaimana kita dapat mendefinisikan 'entry disaat yang tepat' untuk saham-saham bank mini/digital ini? Menurut saya, terlepas dari pergerakan teknikal saham bank mini/digital yang ada, waktu yang tepat untuk entry adalah ketika (1.) Mayoritas saham bank mini/digital sedang hijau, dimana ini berarti sektor bank mini dan digital memiliki kemungkinan sedang digoreng oleh bandar (2.) Saham Bank Mini/Digital ARB selama 2-3 hari berturut-turut, meskipun pada beberapa kasus meski ARB di sesi perdagangan pertama di sesi ke-2 bisa saja langsung rebound dan kembali hijau ke 5%-10%, (3.) Performa saham stagnan di titik tertentu selama beberapa hari, kalau koreksi tidak terlalu parah, kalau naik pun tidak sginifikan (4.) Terkena isu Right Issue/Kerja Sama/M&A.

Tentu, 4 definisi untuk 'entry disaat yang tepat' diatas saja tidak cukup. Diperlukan 'feel' untuk menginterpretasikan karakter dari saham yang ada. Dan.. karakter yang ada pada periode ini, bisa saja berubah di periode mendatang. 

Sebagai contoh, menurut analisa saya pribadi, BBHI dan BBYB adalah salah 2 emiten bank digital ter-atraktif untuk sekarang ini (kita kesampingkan ARTO karena harganya sudah sangat mahal). Kedua bank ini menjadi pilihan utama market karena bukan hanya tersiram isu 'akan menjadi bank digital', tetapi memang 'sudah pasti menjadi bank digital'. Di alternatif lainnya, ada NOBU dan BNBA yang menjadi alternatif incaran market ketika BBHI atau BBYB sedang digoreng terlalu tinggi atau malah terkoreksi. Selebihnya BABP, BGTG, BMAS, dan saham-saham bank mini lainnya menjadi pilihan bandar/broker secara bisa dibilang agak random. Sehingga saya harus menginterpretasikan, emiten apa yang sekiranya akan naik ketika mayoritas emiten bank digital sedang naik, emiten apa yang bisa hijau perkasa kembali di hari dimana emiten tersebut ARB pada awalnya, dan emiten apa yang harus di take profit di hari emiten tersebut ARA karena memiliki kecenderungan untuk koreksi dalam di hari selanjutnya.


BBYB x Akulaku to the moon

MNC X UYM maknyus..
 

Selebihnya, kapan harus keluar/take profit menjadi persoalan lain bagi para investor retail. Karena jika telat untuk take profit, ada beberapa hal yang bisa saja terjadi dan kemudian menyebabkan keboncosan. Beberapa diantaranya resiko jika telat take profit: (1.) Harga dibanting broker/bandar yang sudah masuk di harga bawah sejak beberapa hari lalu (2.) Emiten terkena suspensi BEI dan dana kita nyangkut selama beberapa waktu tertentu -> dalam hal ini, kita masuk ke saham yang sudah ARA berhari-hari dan akhirnya disuspend sementara oleh BEI. Masih mending kalau di suspend 1 hari, terkadang suspensi bisa terjadi selama minggu bahkan bulan jika harga saham dinilai terlalu liar. Dan jika ini terjadi, worst scenarionya adalah ketika saham diperdagangkan kembali, saham tersebut akan ARB selama berhari-hari sebelum akhirnya mantul lagi.

Perkara kapan harus take profit memang sangat tricky. Di satu sisi, kita menginginkan keuntungan maksimal, di sisi lain kita juga tidak bisa terlalu serakah untuk menghindari bantingan broker/bandar. Secara target, mungkin 10% sampai 50% menjadi angka yang cukup proporsional untuk dijadikan patokan kapan harus take profit. Sekitar 10%-24% tentunya untuk bermain aman jika emiten terkait memiliki potensi ARA dalam sehari, dan mungkin 24%-50% jika emiten terkena sentimen positif yang mampu membuatnya untuk rally selama berhari-hari. Lebih dari 50% mungkin masih doable, namun perlu diingat resikonya juga semakin membesar.

Secara ringkas, perlu disampaikan sekali lagi bahwa tulisan ini tidak bermaksud untuk mempengaruhi keputusan pembaca untuk melakukan aksi apapun di pasar modal melainkan untuk memberikan insight tentang animo pasar terhadap bank digital atau bank mini yang sedang tinggi-tingginya. Dari berbagai macam aspek, periode ini bisa dibilang merupakan periode yang tepat untuk ikut berburu cuan karena 'demand' dan gairah pasar terhadap hal-hal yang terkait dengan tech atau digital seperti bank digital sedang tinggi-tingginya. Kedepannya ketika saham-saham teknologi atau start-up sudah mulai berjamuran di BEI, belum tentu demand untuk bank digital akan se-'ganas' periode ini.